Manufaktur Berpotensi Kembali Menggeliat pada Kuartal I/2020

Berkaca dari Survei Kegiatan Dunia Usaha dari Bank Indonesia, pada kuartal IV/2019 dunia usaha tumbuh positif meskipun melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Berdasarkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal IV/2019 tercatat sebesar 7,79%, lebih rendah dari 13,39% pada kuartal III/2019.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  18:52 WIB
Manufaktur Berpotensi Kembali Menggeliat pada Kuartal I/2020
Pekerja merakit mesin mobil Esemka di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI - Bisnis/Chamdan Purwoko

Bisnis.com, JAKARTA – Industri pengolahan diyakini akan kembali menggeliat pada kuartal I/2020 didukung oleh kenaikan volume pesanan barang dan volume pesanna barang input.

Berkaca dari Survei Kegiatan Dunia Usaha dari Bank Indonesia, pada kuartal IV/2019 dunia usaha tumbuh positif meskipun melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Berdasarkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal IV/2019 tercatat sebesar 7,79%, lebih rendah dari 13,39% pada kuartal III/2019.

Berdasarkan sektor ekonomi, ekspansi kegiatan usaha tertinggi terjadi pada sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan dengan SBT 3,01%, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dengan SBT 2,76%, diikuti oleh sektor Jasa-jasa dengan SBT 2,51% didusul sektor Pengangkutan dan Komunikasi dengan SBT 1,06%.

Pada sisi lain, sejumlah sektor terindikasi mengalami kontraksi yaitu sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan & Perikanan dengan SBT -2,03% dan sektor Pertambangan dan Penggalian dengan SBT -1,25. Penurunan di sektor Pertanian terjadi khususnya pada sub sektor tanaman bahan makanan (tabama) yang dipengaruhi kemarau yang berkepanjangan dan rendahnya curah hujan awal musim tanam kuartal IV/2019.

Kondisi tersebut juga tercermin pada Prompt Manufacturing Index pada Kuartal IV/2019 dari Bank Indonesia. Pasalnya, kinerja industri pengolahan pada kuartal IV/2019 masih berada pada fase ekspansi, meski cenderung melambat dibandingkan dengan kinerja pada kuartal sebelumnya. Dalam Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia tercatat sebesar 51,50% pada kuartal IV/2019, lebih rendah dari 52,04% pada kuartal III/2019.

“Ekspansi industri pengolahan diprakirakan lebih tinggi pada kuartal I/2020. Hal tersebut terindikasi dari PMI Bank Indonesia pada kuartal I/2020 yang diprakirakan meningkat menjadi 52,73%,” tulis Bank Indonesia dikutip dari dokumen PMI Kuartal IV, Senin (13/1/2020).

Secara teperinci, PMI dari Bank Indonesia juga menyatakan berdasarkan subsektor, ekspansi kegiatan usaha pada kuartal IV/2019 terjadi pada sebagian besar subsektor. Ekspansi tertinggi terjadi pada subsektor industri semen dan barang galian nonlogam sebesar 57,43% didorong oleh ekspansi volume produksi dan volume pesanan barang input.

Beberapa sektor yang mengalami kontraksi antara lain; industri tekstil, barang kulit dan alas kaki; industri kertas dan barang cetakan serta industri alat angkut, mesin dan peralatannya. Untuk subsektor industri alat angkut, mesin dan peralatannya mengalami kontraksi terdalam pada periode laporan, dengan indeks sebesar 47,14%. Kondisi tersebut bersumber dari kontraksi pada komponen volume produksi, volume pesanan dan persediaan barang jadi.

Masih optimistis, Bank Indonesia menyatakan, pada kuartal I/2020, ekspansi PMI terjadi pada hampir seluruh subsektor, tertinggi pada subsektor semen dan barang galian non logam sebesar 56,85%, diikuti subsektor industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 53,79%, dan subsektor industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 53,03%. Ekspansi pada subsektor industri semen dan barang galian non logam didorong oleh ekspansi pada volume produksi, volume pesanan barang input, persediaan barang jadi dan tenaga kerja.

Sementara itu ekspansi pada subsektor industri barang kayu dan hasil hutan lainnya didorong oleh ekspansi yang terjadi pada seluruh komponen. Lebih jauh, ekspansi pada jenis industri makanan, minuman dan tembakau didorong oleh ekspansi pada komponen volume produksi, persediaan dan tenaga kerja sejalan dengan upaya produsen untuk memenuhi peningkatan permintaan saat Ramadan dan Idulfitri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top