Kinerja Industri Jamu Diprediksi Membaik pada 2020

Dari laporan sejumlah perusahaan pada tahun lalu realisasi kinerja industri terbilang stabil.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  07:41 WIB
Kinerja Industri Jamu Diprediksi Membaik pada 2020
ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) optimistis industri jamu dan obat tradisional mampu bertumbuh lebih dari 5% pada 2020 setelah pada 2019 terbilang stagnan.

Ketua Umum GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi mengatakan pihaknya masih mengumpulkan data kinerja industri jamu dan obat tradisional. Namun, dia mengaku dari laporan sejumlah perusahaan pada tahun lalu realisasi kinerja industri terbilang stabil atau tidak lebih dari 5%.

Salah satu faktor yang memengaruhi realisasi itu adalah daya beli masyarakat. Dwi optimistis pasar jamu dan obat tradisional pada tahun ini akan lebih baik lantaran sosialisasi pemanfaatan produk kian masif.

"Kami optimistis bisa lebih baik pada tahun ini sebab sosiaslisasi terus berjalan," ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Dwi mengatakan bahwa kehadiran program Jaminan Kesehatan Nasional dalam beberapa tahun terakhir memengaruhi pemanfaatan produk jamu dan obat tradisional. Pasalnya, program nasional yang dijalankan BPJS Kesehatan itu memberikan layanan kesehatan dan obat secara gratis bagi masyarakat.

Alhasil, masyarakat cenderung abai dalam memanfaatkan produk jamu dan obat tradisional untuk menjaga kesehatan.

"Mindset masyarakat jadinya berubah sehingga tidak perlu menjaga kesehatan dengan jamu atau obat tradisional sebab nanti pengobatan gratis."

Menurutnya, selama ini Kementerian Kesehatan sudah membantu sosialisasi pemanfaatan produk jamu dan obat tradisional melalui Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas di berbagai wilayah. Fasilitas kesehatan itu bahkan menyediakan lahan untuk menanam sejumlah bahan baku jamu yang langsung dapat dimanfaatkan pasien.

Tenaga kesehatan di Puskesmas, kata Dwi, juga mulai meningkatkan pengetahuannya untuk memanfaatkan bahan baku jamu dan obat tradisional. Oleh karena itu, dia berharap ke depan pemangku kepentingan lain turut membantu sosialisasi tersebut.

"Kami berharap BPOM dan Kemenkes bantu terus promosikan," jelasnya.

Di sisi lain, Dwi mengatakan pemanfaatan ecommerce untuk memasarkan produk jamu dan obat tradisional kian masif. Rekanan atau mitra perusahaan jamu dan obat tradisional, jelas dia, juga memfasilitasi pelatihan terkait penjualan produk melalui ecommerce.

GP Jamu, kata Dwi, juga sedang menyiapkan platform bersama untuk memasarkan produk lokal ke pasar ekspor. "Ini untuk menyasar buyer dari luar negeri sehingga mereka bisa mencari produk yang sesuai kebutuhan mereka," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri jamu

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top