Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nilai Ekspor Kayu Olahan Asal Indonesia Mengalami Penurunan

Lesunya perekonomian global berimbas pada kinerja sektor usaha kehutanan dalam negeri yang nilai ekspor kayu olahannya turun 4% sepanjang 2019.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 03 Januari 2020  |  17:58 WIB
Nilai Ekspor Kayu Olahan Asal Indonesia Mengalami Penurunan
Panel kayu dan kayu olahan - Ilustrasi/kemenperin.go.id
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Lesunya perekonomian global berimbas pada kinerja sektor usaha kehutanan dalam negeri yang nilai ekspor kayu olahannya turun 4% sepanjang 2019.

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) Indroyono Soesilo mengatakan pada 2019, total nilai ekspor kayu olahan Indonesia senilai US$11,64 miliar. Ada penurunan US$490 juta dibandingkan periode yang sama pada 2018 senilai US$12,13 miliar. 

Untuk negara tujuan ekspor terbesar masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni China di posisi teratas, diikuti Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Korea Selatan. 

"Penurunan permintaan dunia melemahkan kinerja ekspor kayu olahan Indonesia yang secara berantai menurunkan permintaan pasokan bahan baku dari sektor hulu, baik dari hutan alam maupun hutan tanaman," ujarnya di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

lndroyono memerinci produksi kayu hutan alam pada 2019 hanya 5,8 juta m3 atau turun 16,3% dibandingkan 2018 yang mencapai 7 juta m3. Penurunan produksi hutan alam ini terutama karena berkurangnya permintaan pasokan dari industri pengolahan kayu, terutama industri panel dan woodworking yang sebagian besar bahan bakunya menggunakan kayu alam. 

Sementara itu, produksi hutan tanaman juga mengalami penurunan tipis. Pada 2018, produksinya mencapai 40 juta m3, sementara pada 2019 tercatat 39 juta m3, atau turun 1,63%. 

Untuk mengurangi beban usaha serta mendorong investasi dan ekspor hasil hutan pada 2020, dunia usaha kehutanan berharap dalam jangka pendek dapat diterbitkan kebijakan insentif fiskal. Insentif antara Iain dalam bentuk pembayaran dana reboisasi dalam rupiah, insentif PNBP kayu bulat kecil dan produk perhutanan sosial, percepatan restitusi PPN, PPN log 0%, penurunan pajak ekspor veneer, dan keringanan PBB.

Selain prakondisi kebijakan tersebut, dalam rangka peningkatan ekspor kayu olahan, perlu didorong kerjasama dengan para duta besar RI untuk negara-negara dengan tujuan ekspor potensial. Dalam waktu dekat, katanya, akan dimulai dengan Dubes RI di Beijing dan Dubes RI di Seoul. 

"Para dubes ini akan memfasilitasi perluasan pasar untuk ekspor kayu olahan Indonesia," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kayu kehutanan
Editor : Lucky Leonard
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top