Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI : Situasi Global Belum Tunjukkan Sinyal Perbaikan

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjono menyatakan saat ini situasi global memang belum memberi sinyal perbaikan dan memiliki kecenderungan masih menurun.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  10:17 WIB
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan (dari kiri) dalam diskusi
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan (dari kiri) dalam diskusi "Perkembangan Ekonomi Terkini Indonesia dan Outlook 2020" di Labuan Bajo bersama Direktur Eksekutif DKEM Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjana, dan Chief Economist BNI Ryan Kiryanto, Senin (9/12/2019). Bisnis - Gloria F.K. Lawi

Bisnis.com, LABUAN BAJO – Ketidakpastian global akibat perang dagang semakin tinggi akibat tidak adanya kesepakatan global Amerika Serikat dengan China.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjono menyatakan saat ini situasi global memang belum memberi sinyal perbaikan dan memiliki kecenderungan masih menurun.

Awalnya, kata Endy, sempat ada optimisme saat ada potensi kesepakatan datang AS dengan China. Namun dengan ada masalah baru terkait UU Migrasi, AS mendukung imigran dan demonstran di HongKong ditambah respon protes soal Uighur, membuat trade deal mentah kembali.

Selain itu, Presiden Donald Trump juga masih mengancam menaikkan tarif pada Prancis, Argentina, dan Brasil. Alhasil, perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pun mengalami koreksi, dari yang semula diprediksi.

“Ini jadi menurun dari 2018 tumbuh 3,6% kini cuma 3,0% ini juga sudah turun dari proyeksi semula mencapai 3,2%,” ujar Endy di Ayana Hotel, Senin (9/12/2019).

Dia menjelaskan, di negara-negara lain juga belum ada tanda-tanda mulai terjadi pemulihan. Misalnya di Eropa justru semakin turun, dan prospek ekspor di Jerman sudah terkena dampaknya. Begitu pula di China juga melambat hanya tumbuh 0,2% pada 2019. Sementara itu, di India kata Endy mengherankan karena turun di bawah 5,0%.

“Yang mengherankan Trump seharusnya mendukung trade deal karena di dalam negeri popularitas masih kalah maka trade deal bisa dorong elektabilitas. Entah apa ini masalah timing atau strategi,” pungkas Endy.

Seiring dengan itu semua bank sentral dengan kebijakan moneter yang akomodatif dari Bank Sentral Thailand yang turun 50 bps sebanyak dua kali, The Fed turun 75 bps ada tiga kali, dan Brasil 150 bps. Alhasil, semua bank sentral sudah menurunkan suku bunga dan Bank of Japan bahkan sudah minus. Oleh sebab itu, langkah kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia menurut Endy sudah sejalan dengan misi mayoritas bank sentral di dunia.

“Bahkan kebijakan pelonggaran tidak hanya suku bunga tetapi injeksi likuditas maka dampaknya ada likuiditas yang masuk ke emerging market dan masuk ke yield yang lebih tinggi termasuk ke Indonesia,” paparnya.

Sejalan dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi kata Endy, melambat volume perdagangan dunia tercatat turun 2,6% sampai 3% jauh melambat dari tahun lalu.

Kondisi ini juga masih diikuti penurunan harga komoditas ekspor. Secara total 2018 komoditas ekspor turun 2,8% pada 2019 turun dalam lagi 4%, adapun komoditas yang naik hanya karet naik 13,6% dan nikel naik 5%.

“Kita melihat ke depan Indeks Harga Komoditas Ekspor bisa membaik berkat CPO, dan 1 Januari pemerintah akan menaikkan B20 ke B30 kalau ini berhasil full biodiesel maka kemungkinan suplai CPO global turun lebih besar karena kita bisa ekspor dalam bentuk biodiesel dan mengurangi impor minyak,” ungkap Endy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top