Kurikulum Akan Diubah: Isu Pendidikan di Indonesia Tidak Hanya Soal Waktu Belajar

Rencana perubahan kurikulum dan sistem pembelajaran di Tanah Air semakin ramai setelah Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengusulkan bahwa hari dan jam belajar di sekolah dipangkas menjadi 3 jam dalam sehari dan 3 hari dalam sepekan untuk mengurangi beban pelajar yang menurutnya kelewat berat dan berdampak negatif pada kualitas lulusan yang dihasilkan.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 06 Desember 2019  |  15:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana perubahan kurikulum dan sistem pembelajaran di Tanah Air semakin ramai setelah Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengusulkan bahwa hari dan jam belajar di sekolah dipangkas menjadi 3 jam dalam sehari dan 3 hari dalam sepekan untuk mengurangi beban pelajar yang menurutnya kelewat berat dan berdampak negatif pada kualitas lulusan yang dihasilkan.

Pemerhati pendidikan yang juga Direktur Eksekutif CERDAS (Center for Education Regulations and Development Analysis) Indra Charismiadji mengingatkan hal terpenting dari pembenahan pendidikan di Indonesia tidak semata-mata terkait kuantitas jam belajar semata, tetapi lebih menitiberatkan pada kualitas yang nantinya akan melahirkan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing tinggi.

Apabila memang diperlukan perubahan jam belajar, menurutnya perlu disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat di Indonesia tidak bisa begitu saja mengadopsi apa yang telah diimplementasikan di negara lain dan dianggap sukses.

“Kita harus berpikir bagaimana kehidupan sosial masyarakat Indonesia, jadi misalnya jika bicara masyarakat di perkotaan dimana ayah dan ibu sama-sama bekerja di kantor dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Kalau memang mau dikurangi jadi hanya 3 hari dan 3 jam setiap harinya siapa yang mau menjaga anak itu? Jangan sampai solusi ini malah menimbulkan masalah baru,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (5/12/2019).

Adapun terkait dengan konsep belajar merdeka ala Finlandia yang serupa dengan usulan Kak Seto, menurut Indra perlu dipertimbangkan secara matang lantaran karakteristik pelajar di Indonesia jauh berbeda dengan karakteristik pelajar di negara tersebut.

Pasalnya, minat membaca anak didik di Indonesia masih sangat rendah tercermin dari hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).

“Di Finlandia mau dibuat sistem belajarnya merdeka ya bisa saja karena memang kemampuan dan karakteristik pelajar disana sudah baik, khususnya dari tingkat literasinya dan juga partisipasi orangtuanya, Di Indonesia kalau melihat hasil survey PISA yang skornya jeblok ada di urutan 74 sepertinya sulit,” paparnya.

Sementara itu, Kak Seto, sapaan akrab Seto Mulyadi meluruskan usulan yang dia lontarkan beberapa waktu lalu itu. Dia mengklaim tak mengusulkan pemangkasan waktu sekolah formal dipangkas menjadi 3 jam dalam seminggu dan 3 hari dalam sepekan.

“Rekan-rekan yang bertemu saya waktu itu salah mengartikan, itu untuk pendidikan non-formal yaitu homeschooling yang sudah saya aplikasikan sejak lama dan berhasil menghasilkan lulusan yang berkualitas. Sistemnya ya seperti itu. Untuk pendidikan formal? Ya tentunya tidak seperti itu, nanti gurunya bagaimana? Orangtua yang bekerja bagaimana?” katanya kepada Bisnis.

Adapun, untuk pendidikan formal menurut Kak Seto perlu banyak pembenahan agar pelajar, khususnya di tingkat sekolah dasar (SD) tidak terbebani dengan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan minat mereka dan cara pembelajaran yang hanya dilakukan di ruang kelas saja.

Oleh karena itu, dia mendukung sepenuhnya rencana perubahan kurikulum dan sistem pembelajaran menjadi lebih fleksibel oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

“Yang penting bisa fleksibel, orang tua dan anak bisa memilih mana yang pas, tidak bisa dipaksa. Intinya belajar harus dengan suasana yang menyenangkan tidak hanya di ruang kelas saja. Kalau memang mau full day school ya jangan kaku di kelas saja. Harus belajar di luar dari lingkungan sekitar bagaimana dan tentunya juga anak-anak bisa memilih mana yang mereka ingin pelajari betul-betul,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan hal terpenting yang harus diubah dalam sistem pendidikan di Tanah Air adalah kultur belajar dari pelajar.

“Kita perlu mengubah kultur belajar kita tanpa harus menunggu instruksi atau proyek. Kultur belajar adalah habbit yang bisa dilakukan sejak besok,” katanya.

Adapun terkait dengan rencana perubahan kurikulum dan sistem pendidikan, apapun perubahan yang dilakukan akan tetap memberikan kesempatan yang sama untuk meraih prestasi kepada siswa dengan latarbelakang sosial ekonomi keluarga kurang menguntungkan.

Adapun sebelumnya, Mendikbud Nadiem Makarim menyebut kurikulum dan tata kelola organisasi yang berlaku dalam sistem pendidikan tidak bisa disamaratakan di setiap sekolah demi mengakomodasi sepenuhnya keberagaman di Tanah Air.

Dia menjelaskan kurikulum dan tata kelola organisasi yang ada selama ini membuat sekolah dan tenaga pendidik tidak bisa menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat khususnya anak didik. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pendidikan

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top