Museum Po Up, Kiat Pemilik Mal Menarik Perhatian Pengunjung

Salah satu cara jitu yang bisa digunakan para tuan tanah properti ritel adalah dengan memasukkan pameran seni dengan instalasi yang instagramable dengan tema yang unik dan menyenangkan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  17:59 WIB
Museum Po Up, Kiat Pemilik Mal Menarik Perhatian Pengunjung
Suasana di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar properti ritel di seluruh dunia mengalami stagnasi, bahkan penurunan kinerja lantaran adanya perubahan gaya hidup. Untuk makin menarik perhatian pengunjung, pemilik harus pintar-pintar mencari jalan agar properti ritelnya tidak sepi.

Salah satu cara jitu yang bisa digunakan para tuan tanah properti ritel adalah dengan memasukkan pameran seni dengan instalasi yang instagramable dengan tema yang unik dan menyenangkan.

Director of Research JLL Singapore Angelia Phua menuturkan bahwa di Singapura, salah satu merek minuman bubble tea belum lama ini membuka pameran museum makanan penutup, yang asal muasalnya dimulai di Manila.

Senada, ada Selfie Museum (museum swafoto) di Kuala Lumpur, Malaysia. Kemudian ada pula Rainbow Sweets Land dan Ice Cream Land di Tokyo, Jepang.

Adapun, di Jakarta sendiri sempat ada museum instagramable seperti Haluu World dan Raven is Odd.

Hal ini mendorong tingkat aktivitas di properti ritel di Asia, mengulang kesuksesan yang sama di Amerika Serikat yang mengusung museum yang didedikasikan kepada pencinta makanan es krim dan piza.

Namun, tak seperti museum versi Amerika, yang menempati gedung kosong, versi Asia umumnya menggelar museum di mal atau yang dekat dengan mal. Hal ini lantaran untuk menyiasati keterbatasan lahan dan kepadatan kota.

Tak hanya bertema makanan, minuman, dan permainan. Di India dan Thailand ada pop up museum yang didedikasikan bagi pencinta beragam topik mulai dari kamera, kapal pesiar, dan bahkan soal migrasi.

"Museum pop up ini ditargetkan untuk menambah pengalaman pengunjung dan buzzer media sosial untuk menambah tingkat kunjungan pada mal-mal yang ditempati. Museum ini sama seperti pop up store, tapi lebih interaktif dan menarik secara visual," jelas Phua melalui lapora tertulis, dikutip Bisnis Selasa (3/12/2019).

Adanya museum pop up di mal atau disebut "Mallseum" juga ditujukan sebagai upaya menanggulangi persaingan dengan pedagang elektronik. Mal menjadi tempat yang menawarkan pengalaman interaktif untuk menarik para pelanggan dan mengisi kesenjangan salah satunya dengan pembelian bingkisan dari museum tersebut.

"Landlord paham betul bahwa mereka harus memosisikan mal mereka sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda dan keunikan tersendiri bagi mal tersebut, sekaligus untuk mengundang pengunjung baru maupun pengunjung lama agar mau datang lagi," lanjut Phua.

Saat ini, kebanyakan Museum Pop Up hanya bertahan beberapa pekan atau beberapa bulan, tapi tidak menutup kemungkinan bagi tuan tanah untuk menggelar museum yang permanen.

Dengan makin berkembangnya budaya belanja daring di Asia, museum pop up bisa berperan penting jika mal sudah berada di titik terendahnya, sekaligus menambahkan sedikit sentuhan keceriaan.

"Pop up [museum] ini benar-benar bekerja dan sudah jelas terbukti di banyak pusat belanja. Saya memperkirakan karena bisa mengisi ruang kosong di properti ritel, tren museum pop up akan terus naik," kata Phua.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mal, pusat perbelanjaan

Editor : Zufrizal
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top