Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IMF Pangkas Proyeksi PDB Jepang untuk Ketiga Kalinya pada 2019

IMF memangkas proyeksi pertumbuhannya untuk ekonomi terbesar ketiga dunia tahun ini menjadi 0,8% dari proyeksi sebelumnya 0,9%, serta potensi perlambatan pada kisaran 0,5% untuk tahun depan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 25 November 2019  |  17:32 WIB
Peserta berdiri di dekat logo Dana Moneter Internasional (IMF) dalam rangkaian Pertemuan IMF  World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - Reuters/Johannes P. Christo
Peserta berdiri di dekat logo Dana Moneter Internasional (IMF) dalam rangkaian Pertemuan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - Reuters/Johannes P. Christo


Bisnis.com, JAKARTA - International Monetary Fund menghimbau agar Bank Sentral Jepang dan pemerintah dapat bekerja sama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi setelah memangkas prospek untuk ketiga kalinya tahun ini di tengah tantangan global.

IMF memangkas proyeksi pertumbuhannya untuk ekonomi terbesar ketiga dunia tahun ini menjadi 0,8% dari proyeksi sebelumnya 0,9%, serta potensi perlambatan pada kisaran 0,5% untuk tahun depan.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada dasarnya memberikan lampu hijau untuk paket stimulus yang direncanakan Perdana Menteri Shinzo Abe.

Dia menyerukan peningkatan pengeluaran pemerintah untuk menopang pertumbuhan dan harga.

IMF juga membuat beberapa rekomendasi agar kebijakan BOJ dapat menjadi lebih berkelanjutan, termasuk obligasi jangka pendek serta menegaskan reformasi struktural yang lebih ambisius untuk mendorong pertumbuhan.

BOJ dapat mengurangi efek samping dari pelonggaran yang berkepanjangan dengan menggeser target yield 0% pada obligasi pemerintah bertenor 10 tahun dengan memberlakukan tenor yang lebih pendek dan mengurangi pembelian obligasi jangka panjang.

"Langkah ini dapat meningkatkan kurva imbal hasil obligasi pemerintah, yang akan membantu profitabilitas bank sentral," ujar IMF,  dikutip melalui Bloomberg, Senin (25/11/2019).

Menurut Hiroshi Miyazaki, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley, komentar IMF menambah dukungan pada fiskal Abe pascakenaikan pajak penjualan dan pengeluaran publik yang melemah.

Georgieva mengatakan ketahanan permintaan domestik Jepang akan diuji oleh perlambatan global serentak dalam waktu dekat dan oleh demografi negara itu sendiri, dalam jangka panjang.

Kebijakan fiskal Jepang, tambahnya, harus mendukung untuk melindungi pertumbuhan jangka pendek dan mempromosikan momentum inflasi.

“Di luar pertimbangan jangka pendek, komitmen yang jelas untuk keberlanjutan fiskal jangka panjang sangat penting,” katanya.

IMF mengatakan Jepang seharusnya tidak memperketat belanja negara untuk saat ini, menunjukkan bahwa langkah-langkah yang bertujuan mendukung pertumbuhan melalui kenaikan pajak penjualan harus diperpanjang.

Langkah-langkah itu, termasuk potongan untuk pembayaran nontunai dan keringanan pajak untuk pembelian rumah dan mobil, yang telah membantu memperlancar permintaan.

Uang publik juga dapat digunakan untuk meningkatkan upah pekerja di sektor perawatan kesehatan, menawarkan insentif bagi perusahaan untuk menaikkan upah, dan memperluas ketersediaan fasilitas pengasuhan anak.

Di antara reformasi struktural yang mendesak untuk meningkatkan fleksibilitas pasar tenaga kerja dan tata kelola perusahaan, IMF menandai pentingnya mengatasi dualitas pasar tenaga kerja Jepang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi jepang
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top