Maskapai Helikopter Disarankan Bidik Segmen Ritel

Maskapai helikopter nasional disarankan segera melakukan pergeseran segmen bisnis dari basis penyedia kebutuhan korporasi menjadi ritel atau angkutan alternatif.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 14 November 2019  |  20:56 WIB
Maskapai Helikopter Disarankan Bidik Segmen Ritel
Ketua Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) Denon Prawiraatmadja sedang menjawab pertanyaan wartawan usaiForum Helikopter Indonesia, Kamis (14/11/2019). - Bisnis/Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA - Maskapai helikopter nasional disarankan segera melakukan pergeseran segmen bisnis dari basis penyedia kebutuhan korporasi menjadi ritel atau angkutan alternatif.

Ketua Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) Denon Prawiraatmadja mengatakan selama ini maskapai helikopter bergantung kepada sektor pertambangan serta minyak dan gas. Padahal, kedua sektor industri tersebut sedang mengalami masa senja.

"Maskapai helikopter harus bisa melakukan inovasi dalam mempertahankan dan menyiasati bisnis. Diharapkan ada peluang baru, misalnya dengan mengoptimalkan segmen ritel seperti angkutan perkotaan," kata Denon usai Forum Helikopter Indonesia, Kamis (14/11/2019).

Dia menambahkan selama lebih dari 50 tahun helikopter hadir menunjang bisnis minyak dan gas (migas) serta pertambangan. Sektor tersebut telah menyumbang pada bentuk, model bisnis, struktur organisasi perusahaan, hingga regulasi.

Tahun lalu, lanjutnya, salah satu dari tiga maskapai helikopter terbesar dunia, yakni Canadian Helicopters sudah menyatakan pailit. Tahun ini, giliran Bristow Helicopters dan PHI Inc. sudah masuk proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU/Chapter 11) atau restrukturisasi utang.

Padahal, kedua maskapai yang disebutkan terakhir memiliki masing-masing sekitar 500 unit helikopter. Jika keduanya berujung pailit, akan terdapat pengurangan operasional hingga 1.000 unit helikopter di dunia.

Menurutnya, ketergantungan maskapai pada bisnis minyak dan gas menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan untuk jenis helikopter medium dan berat. Di sisi lain, jenis helikopter kecil (single) masih memiliki ruang untuk bisa dimanfaatkan.

Denon berpendapat helikopter kecil bisa dimanfaatkan sebagai alternatif angkutan perkotaan. Di Indonesia, pemanfaatan helikopter sebagai angkutan perkotaan merupakan hal baru, berbeda dengan di negara kawasan Eropa maupun Amerika.

Sebagai perbandingan, penggunaan heliopter di Brazil bisa mencapai 2.000 pergerakan per hari. Sementara untuk penerbangan rute Jakarta-Bandung dalam sebulan hanya 30 pergerakan.

Akan tetapi, imbuhnya, sejumlah maskapai helikopter di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam sudah mulai masuk ke segmen ritel. Segmen ini diyakini memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi.

"Namun, kita harus tetap mengutamakan standar keselamatan kepada penumpang di atas risiko bisnis yang dihadapi," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Helikopter

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top