Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Seberapa Siap Angkut Kargo Pakai Drone? Ini Pandangan Konsultan Logistik

Konsultan senior Supply Chain Indonesia (SCI) Widia Erlangga menuturkan pesawat nirawak atau drone masih belum siap diterapkan di Tanah Air.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 11 November 2019  |  18:59 WIB
Seberapa Siap Angkut Kargo Pakai Drone? Ini Pandangan Konsultan Logistik
Pesawat UAV (unnamed aerial vehicle) berjenis BZK-00 yang dibeli oleh Garuda. - Bisnis/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penggunaan pesawat nirawak untuk angkutan kargo masih menghadapi tantangan dari sisi regulasi dan infrastruktur pendukung di Indonesia.

Konsultan senior Supply Chain Indonesia (SCI) Widia Erlangga menuturkan pesawat nirawak atau drone masih belum siap diterapkan di Tanah Air.

"Ini masih belum bisa digunakan dalam waktu dekat. Karena infrastruktur dan regulasinya belum disiapkan dengan baik," paparnya kepada Bisnis.com, Senin (11/11/2019).

Dia menjelaskan penggunaan drone atau pesawat nirawak belum tentu dapat dilakukan pada bisnis kargo udara. Alasannya, regulasi penunjang serta pengoperasian lainnya belum siap.

Selain regulasi dan infrastruktur, dia menilai drone Garuda Indonesia hanya mampu mengangkut maksimal 1,2 ton saja.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan sedang memproses sertifikasi pesawat tanpa awak (unmanned aircraft vehicle/UAV) yang akan digunakan Garuda Indonesia untuk mengembangkan bisnis kargo udara.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti mengatakan sertifikasi tersebut dilakukan guna menunjang rencana uji coba yang akan dilakukan oleh emiten berkode GIAA tersebut. Namun, jangka waktu yang dibutuhkan dalam proses tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut. "Masih proses sertifikasi pesawatnya," kata Polana kepada Bisnis.

Dia menambahkan proses sertifikasi diharapkan bisa rampung cepat bergantung pada sikap kooperatif dari pihak pabrikan, yakni Beihang UAS Technology Co. Ltd.

Kemenhub sedang dalam merumuskan regulasi mengenai operasional pesawat nirawak di Indonesia. Pihak regulator mengusulkan adanya kategorisasi dalam rumusan beleid tersebut.

Kategorisasi dibutuhkan karena saat ini terdapat banyak jenis UAV. Pertimbangan kategori yang bisa dimasukkan dalam regulasi mencakup klasifikasi pilot atau operator, spesifikasi dan registrasi UAS, hingga daerah operasi.

Nantinya, lingkup pengaturan regulasi yang diinisiasi Kemenhub akan mengacu pada standar International Civil Aviation Organization (ICAO) dan hanya sebatas untuk kepentingan sipil, bukan termasuk militer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garuda indonesia Drone
Editor : Hendra Wibawa
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top