Pelaku Industri Berharap Menteri Baru Bisa 'Bekerja Cepat'

Pelaku industri berharap munculnya wajah-wajah muda nan baru di istana dapat membaut jalannya pemerintahan lebih cepat dan keras. Selain itu, pelaku industri berharap agar para menteri baru nantinya dapat memahami visi presiden dengan sempurna agar perekonomian nasional dapat tetap tumbuh.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 22 Oktober 2019  |  11:32 WIB
Pelaku Industri Berharap Menteri Baru Bisa 'Bekerja Cepat'
Menteri Sekretaris Negara Kabinet Kerja 2014-2019 Pratikno (tengah) bersama Komisaris Utama Adhi Karya Fadjroel Rachman (kanan) dan mantan Staf Khusus Presiden Nico Harjanto berjalan memasuki kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019) - ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri berharap munculnya wajah-wajah muda nan baru di istana dapat membaut jalannya pemerintahan lebih cepat dan keras. Selain itu, pelaku industri berharap agar para menteri baru nantinya dapat memahami visi presiden dengan sempurna agar perekonomian nasional dapat tetap tumbuh.

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael S. Pardi berharap agar para menteri baru kabinet selanjutnya dapat sejalan dengan arahan presiden yakni berorientasi proses. Maka dari itu, Michael berharap agar para menteri baru dapat melakukan deregulasi dan harmonisasi aturan yang tidak efisien.

“Harapannya langkah-langkah yang diambil seperti deregulasi dan harmonisasi peraturan dapat segera terlaksana, bukan hanya wacana seperti sekarang ini,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (21/10/2019).

Selain itu, Michael meminta agar para mengeri dapat perlindungan terhadap sektor manufaktur dapat segera diberikan. Pasalnya, produk lokal saat ini yang memiliki daya saing rendah dibiarkan bertarung dengan produk impor yang berdaya saing. “Sedangkan negara maju seperti Amerika Serikat saja melakukan banyak upaya untuk proteksi industri mereka.”

Terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) Redma Wirawasta menyatakan pemilihan menteri dari sektor profesional akan membuat pelaku industri lebih nyaman. Menurutnya, menteri dari sisi profesional tidak memiliki kepentingan politik yang mempermudah hubungan dengan pemerintah.

“Background profesional buat dunia usaha akan lebih nyambung karena dia juga tahu [masalah dunia usaha].Kalau [menteri] dari sisi politisi itu agak susah,” ujarnya.

Redma berharap agar para menteri baru dapat memiliki visi yang sama dengan presiden pada periode selanjutnya yakni meminimalisir dampak resesi ekonomi global ke dalam negeri. Maka dari itu, lanjutnya, salah satu sektor yang harus dikembangkan adalah penyerapan tenaga kerja ke sektor manufaktur untuk menjaga daya beli masyarakat. 

APSyFI mendata konsumsi nasional mendominasi porsi PDB nasional atau sebesar 3%, sedangkan kisaran PDB nasioanl rata-rata berkisar 5%--6% per tahun. Adapun, asosiasi menilai daya beli konsumen lokal dalam 6 bulan terakhir tidak turun, tapi stagnan dan tidak mengikuti pertumbuhan inflasi dan investasi. 

Di sisi lain, Redma menilai tujuan utama sektor TPT pada tahun depan bukanlah meningkatkan ekspor, namun menurunkan impor. Pasalnya, resesi akan membuat permintaan tekstil global akan berkontraksi. Alhasil, agar nilai bersih neraca perdagangan tekstil tetap positif pemerintah harus menjaga nilai impor.

Jika pemerintah tetap mendorong pertumbuhan ekspor, Redma menyarankan agar pemerintah memberikan insentif yang dapat mengurangi biaya produksi melainkan penarikan investasi. Namun demikian, Redma  menekankan bahwa meningkatkan perputaran produk lokal di pasar domestik menjadi solusi yang utama.

“Yang harus dikendalikan ya netto -nya agar tetap positif supaya kita punya cadangan devisa dari sisi dagang untuk diputar sendiri [di dalam negeri]. Yang penting rakyat bisa kerja, bisa memutar uang di dalam negeri lebih banyak. Ekspor itu bonus,” paparnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top