Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Korea Selatan: BOK Pangkas Suku Bunga Acuan

Bank sentral Korea Selatan memangkas suku bunga acuan untuk kedua kalinya tahun ini guna mengatasi lesunya pertumbuhan ekonomi dan harga di tengah perlambatan ekonomi global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  09:27 WIB
Bank sentral Korea. - Reuters
Bank sentral Korea. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Korea Selatan memangkas suku bunga acuan untuk kedua kalinya tahun ini guna mengatasi lesunya pertumbuhan ekonomi dan harga di tengah perlambatan ekonomi global.

Dilansir dari Bloomberg, Bank of Korea (BOK) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya menjadi 1,25 persen dalam pertemuan dewan gubernur yang berakhir Rabu (16/10/2019).

Keputusan tersebut sejalan dengan proyeksi penurunan oleh 21 dari 25 analis dalam survei Bloomberg, sedangkan empat lainnya memprediksikan suku bunga tidak berubah.

Meski demikian, pasar keuangan Negeri Ginseng menunjukkan sedikit respons terhadap penurunan tersebut karena sebagian besar telah memperhitungkannya.

Langkah ini dilakukan di tengah gelombang langkah pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral di seluruh dunia untuk menopang pertumbuhan.

Langkah tersebut juga menyoroti kesan urgensi di antara para pembuat kebijakan BOK untuk menawarkan dukungan lebih lanjut bagi perekonomian, terutama dengan harga konsumen yang turun.

Gubernur BOK Lee Ju-yeol telah berulang kali mengatakan bahwa otoritas moneter Korsel tersebut memiliki ruang kebijakan untuk mengambil tindakan. Ia juga mengungkapkan keraguan mengenai apakah perkiraan pertumbuhan yang dicetuskan BOK untuk tahun ini dapat tercapai.

Bank-bank sentral dunia telah menambahkan stimulus kebijakan moneternya sebagai dampak dari perlambatan global yang menjalar ke ekonomi negara-negara di seluruh dunia.

Dilihat dari laju dan besarnya pemangkasan suku bunga sejauh ini, BOK cenderung berhati-hati dalam melakukan penurunan suku bunga karena tetap waspada terhadap risiko keuangan dari suku bunga yang terlalu rendah.

Sementara itu, data baru-baru ini terus menyampaikan gambaran suram tentang ekonomi Korsel. Ekspor turun untuk bulan kesepuluh pada September, produksi industri berkontraksi lebih dari yang diperkirakan pada Agustus, dan harga konsumen sudah mulai turun sejalan dengan penurunan harga produsen.

Menambah suramnya prospek ekonomi global, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi dunia. IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan untuk Korea Selatan tahun ini menjadi 2 persen dari proyeksi sebelumnya 2,6 persen.

Meski gencatan senjata antara China dan AS dapat memberi sedikit angin segar untuk perdagangan global, perkembangan sebelumnya dalam konflik dagang antara kedua negara telah menunjukkan bahwa ketegangan dapat bereskalasi dengan cepat kapan saja.

“Pertanyaan utamanya adalah kapan BOK akan menurunkan suku bunga lagi. Mengingat fundamental ekonomi tidak terlihat bagus, pasar harus siap untuk adanya pemangkasan lebih lanjut,” ujar Cho Yong-gu, pakar strategi pendapatan tetap di Shinyoung Securities.

“Langkah itu mungkin dilakukan pada semester pertama tahun depan atau setelahnya dan BOK dapat memilih untuk memangkas suku bunga untuk membantu pemulihan ekonomi jika permintaan teknologi turun,” paparnya.

Menurut survei Bloomberg pada 1-8 Oktober, sekitar separuh dari 25 responden memperkirakan suku bunga akan dipertahankan di 1,25 persen hingga 2020.

Sementara itu, sebagian kecil memperkirakan penurunan lebih lanjut menjadi 1 persen atau 0,75 persen dan dua responden memperkirakan kenaikan suku bunga pada tahun depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korea selatan Ekonomi Korsel
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top