Konsumsi Tak Tumbuh, Utilitas Industri Semen Berpotensi Turun

Utilitas pabrikan semen pada tahun lalu berada di level 63,2% atau memproduksi 69,54 juta ton.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  09:27 WIB
Konsumsi Tak Tumbuh, Utilitas Industri Semen Berpotensi Turun
ilustrasi. - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Konsumsi semen pada Januari—September 2019 terus menunjukkan penurunan dari realisasi tahun lalu. Alhasil, utilitas pabrikan semen pada tahun ini berpotensi menurun dari realisasi tahun lalu.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mendata utilitas pabrikan semen pada tahun lalu berada di level 63,2% atau memproduksi 69,54 juta ton. Adapun, utilitas pabrikan semen terbesar dimiliki oleh PT Semen Gresik di level 82,5%, sedangkan utilitas terendah dialami oleh PT Conch Cement Indonesia di posisi 38,4%.

Adapun, konsumsi semen hingga akhir kuartal III/2019 di dalam negeri tumbuh negatif 2,2% dari realisasi periode yang sama tahun lalu menjadi 45,75 juta ton. Dengan asumsi konsumsi hingga akhir tahun tetap -2,2%, utilitas pabrikan semen akan turun ke level 61,01% lantaran kapasitas terpasang pabrikan semen naik 1,36% atau sebanyak 1,5 juta ton pada tahun ini.

“Para produsen semen sangat mengharapkan bantuan pemerintah untuk sementara tidak mengeluarkan izin pembangunan pabrik baru,” kata Ketua Umum ASI Widodo Santoso kepada Bisnis, pekan lalu.

Menurutnya, kapasitas terpasang pabrikan semen masih akan terus bertambah hingga 2021. Kapasitas terpasang pada 2021 akan tumbuh 4,27% atau bertambah 4,7 juta ton dari kapasitas terpasang 2018.

Agar utilitas pabrikan semen nasional tidak merosot, Widodo berharap agar para pelaku industri aktif dalam pasar ekspor. Namun, hal tersebut juga memiliki tantangan lantaran oversupply juga terjadi pada Vietnam dan Thailand.

ASI menyatakan kapasitas terpasang pabrikan semen di Vietnam mencapai 99 juta ton, sedangkan konsumsi semen di Vietnam hanya 60,27 juta ton. Sementara itu, Thailand memiliki kapasitas yang tidak digunakan sebanyak 26,56 juta ton.

Kendati demikian, Widodo menyatakan performa ekspor hingga September cukup membantu menjaga agar utilitas pabrikan tidak jatuh. Adapun, produksi semen untuk pasar ekspor naik 40% dari realisasi tahun lalu sebanyak. 4,14 juta ton

“Dengan kondisi domestik yang menurun, beberapa produsen seperti Semen Indonesia Group dan Semen Merah Putih meningkatkan penjualan ekspornya sehingga realisasi ekspor klinker [tanur putar] dan semen pada Januari—September sebesar 4,79 juta ton,” katanya.

Widodo mengatakan pengembangan ekspor dapat meningkatkan utilitas pabrik semen yang masih relatif sangat rendah. Adapun, data terakhir menunjukkan utilitas tanur putar dan cement mill masing-masing berada di posisi 64% dan 56%.

Menurut Widodo, negara tujuan ekspor semen dan clinker hingga September adalah Australia, Banglades, Srilanka, China, Maladewa, Filipina, Timor Leste, dan Papua Nugini. Menurutnya, negara tujuan ekspor akan bertambah lantaran ruang utilitas pabrikan dalam negeri masih besar atau setara dengan 25 juta ton.

Dari sisi serapan domestik, Widodo memproyeksi tidak ada peningkatan dan berpotensi tumbuh negatif dari realisasi tahun lalu. Pasalnya, konsumsi pada semester II/2018 terbilang cukup tinggi mengingat adanya program infrastruktur yang besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top