Neraca Dagang September Defisit, CAD Diprediksi Tetap Mengecil

Menurut ekonom Bank Permata Josua Pardede, secara kumulatif neraca perdagangan Januari-September 2019 memang masih mencatatkan defisit US$1,9 miliar, tetapi defisit itu menyusut dari periode yang sama tahun lalu yakni defisit US$3,8 miliar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  17:15 WIB
Neraca Dagang September Defisit, CAD Diprediksi Tetap Mengecil
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Neraca dagang September 2019 yang mengalami defisit tidak akan menambah pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit pada kuartal III/2019.

Menurut ekonom Bank Permata Josua Pardede, secara kumulatif neraca perdagangan Januari-September 2019 memang masih mencatatkan defisit US$1,9 miliar, tetapi defisit itu menyusut dari periode yang sama tahun lalu yakni defisit US$3,8 miliar. Dia menjabarkan, penurunan defisit perdagangan periode Januari-September 2019 berkat penurunan defisit neraca migas menjadi US$6,4 miliar dari periode yang sama 2018.

“Penurunan defisit neraca migas yang signifikan didorong oleh tren penurunan harga minyak mentah di pasar internasional, serta penurunan volume impor migas sehingga secara keseluruhan mendorong penurunan yang signfikan sebesar -28,1% [yoy],” ujar Josua kepada Bisnis.com, Selasa (15/10/2019).

Oleh sebab itu, dengan pencatatan defisit yang membaik, Josua memprakirakan defisit transaksi berjalan pada kuartal III/2019 akan turun dari sebelumnya 3,0% dari PDB menjadi sekitar 2,2% sampai 2,3% dari PDB.

Meski demikian, Josua mengingatkan neraca perdagangan Januari-September 2019 juga masih mencatatkan surplus pada komoditi nonmigas sebesar US$4,5 miliar, tetapi angka ini turun dari periode yang sama tahun lalu yakni US$5,6 miliar. Dia menilai, penurunan surplus neraca nonmigas ini juga dipengaruhi oleh laju penurunan ekspor nonmigas yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan impor nonmigas.

“Hal ini dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas ekspor yang notabene merupakan komoditas mentah seperti crude palm oil, dan batu bara, serta perlambatan ekonomi dari seluruh mitra dagang utama yakni AS, China, Eropa, Jepang, dan India,” sambungnya.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu teliti dalam mempertimbangkan prospek perekonomian global ke depan cenderung melambat, di saat Indonesia masih membutuhkan impor bahan baku untuk produksi. Hal ini diperkuat dengan prospek perlambatan ekonomi pada mitra dagang utama Indonesia, yaitu China, pemerintah dipandang perlu menjaga surplus neraca nonmigas, karena berpeluang mengalami penurunan.

“Ekspor nonmigas perlu didorong dan diperkuat dengan mendiversifikasi ketergantungan terhadap China sebagai pasar ekspor utama Indonesia,” ungkap Josua.

Beberapa langkah cepat yang bisa segera dilakukan adalah segera membina hubungan dagang antara Indonesia dengan negara non-tradisional, sembari mendorong percepatan hilirisasi industri domesik.

Selain itu, Josua mengingatkan pentingnya pemerintah mengurangi konsumsi impor barang jadi, caranya dengan meningkatkan geliat permintaan barang jadi yang diproduksi dari dalam negeri dengan menggunakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top