Film Indonesia Bangkit, Potensi Investasi pun Mekar

Ibarat kembang yang lagi berbunga, industri perfilman nasional yang mulai bangkit kini makin menarik bagi investor. Sisi permintaan terus tumbuh dan pasokan berupa film berkualitas juga kian banyak.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 12 Oktober 2019  |  18:37 WIB
Film Indonesia Bangkit, Potensi Investasi pun Mekar
Para pemain film Gundala berfoto bersama pengunjung saat acara meet and greet film Gundala di Bintaro X-change Mall, Tangerang, Banten, Minggu (25/8/2019). Film yang bercerita tentang pahlawan super ini mulai tayang serentak pada 29 Agustus 2019 di bioskop. - ANTARA/Fauzan

Bisnis.com, JAKARTA – Selama beberapa tahun terakhir, ada beberapa film Indonesia yang sudah ramai dibicarakan sebelum tayang di layar lebar karena berhasil menarik perhatian masyarakat. Tahun ini, Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot adalah salah satunya.

Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini menjadi pembuka proyek besar Jagat Sinema Bumilangit (JSB), yang mencakup 8 seri film bertema pahlawan super lokal Indonesia yang berlanjut hingga 2025.

Gundala, tokoh manusia sakti yang memiliki kekuatan dari petir, diadaptasi tokoh jagoan di komik Gundala Putra Petir (1969-1982) karya Haraya Suraminata alias Hasmi.

Mengutip data filmindonesia.or.id, Kamis (3/10/2019), jumlah penonton Gundala tembus 1,69 juta penonton hanya dalam waktu sepekan. Dengan asumsi perhitungan pendapatan kotor sebesar Rp40.000 per penonton, peredarannya diperkirakan menghasilkan pendapatan sebesar Rp67,97 miliar.

Calon penonton membeli tiket serta makanan di salah satu jaringan bioskop Cinemaxx di Lippo Karawaci, Tangerang, Rabu (17/2/2016)./Reuters-Darren Whiteside

Gundala diproduseri oleh Screenplay Bumilangit Produksi, rumah produksi gabungan Screenplay Films dan Bumilangit Studios Media, serta bekerja sama dengan Legacy Pictures, dan perusahaan investasi Ideosource Entertainment.

Ditemui di sela-sela pemutaran perdana film tersebut, produser Screenplay Films Wicky V. Olindo menyatakan film ini menelan biaya sekitar Rp30 miliar yang dibagi duapertiga untuk produksi dan sepertiga untuk promosi. Selain di Indonesia, film itu juga dipasarkan di Malaysia dan diputar secara global lewat platform Over The Top (OTT).

Pemodal-pemodal dari proyek JSB berkomitmen untuk terlibat dalam produksi tujuh film berikutnya, dengan investasi di tiap film diperkirakan sama atau lebih besar dari Gundala.

Beberapa nama pengusaha besar seperti Erick Thohir dan Keluarga Bakrie juga disebut memiliki andil dalam proyek JSB.

Pemilik Bumilangit Entertainment Robertus Bismarka “Koko” Kurniawan mengaku bersyukur niat merealisasikan film JSB baru terwujud pada tahun ini, pada saat industri film Indonesia sudah makin berkembang.

Bumilangit Entertainment, yang menaungi Bumilangit Studios Media, sebenarnya sudah berdiri sejak 2003.

“Kalau bikin filmnya lima tahun lalu, saya pikir industrinya belum menunjang. Pertumbuhan penonton tiga tahun ini juga luar biasa, dengan itu kita punya kepercayaan untuk bikin film yang bagus. Kalau mungkin 10 tahun lalu, mungkin bisa saja bujetnya lebih rendah tapi kualitasnya tidak akan bagus,” paparnya.

Pertumbuhan penonton film di Indonesia memang makin pesat dalam tiga tahun terakhir. Mengutip data Cinepoint dalam paparan diskusi panel Akatara 2019, penonton film di Indonesia hanya sebesar 37,21 juta pada 2016 dan tumbuh menjadi 51,16 juta pada 2018.

Kemudian, pada 2016, 2017, dan 2018, jumlah film yang ditonton lebih dari 1 juta orang berturut-turut sebanyak 10, 11, dan 14 film. Namun, pada Januari-Agustus 2019 saja, sudah ada 11 judul film yang masuk kategori ini.

Sebagai perbandingan, pada periode 2007-2015, jumlahnya tak pernah lebih dari 6 judul film per tahun.

Selain kondisi ekonomi, hal ini juga didorong materi film yang kian berkualitas dan beragam, penambahan infrastruktur bioskop, serta perubahan gaya hidup masyarakat.

Momentum itu juga ditangkap oleh pelaku jejaring bioskop untuk lebih ekspansif, seperti yang dilakukan CJ CGV Cinemas Indonesia (PT Graha Layar Prima Tbk.). Belum lama ini, CGV membuka cabang ke-62 di Kediri Mall sehingga menambah jumlah layar menjadi total 366.

CGV berambisi untuk hadir di 100 lokasi sampai akhir 2020. Boleh dibilang rencana tersebut cukup ambisius, mengingat hingga akhir 2018, CGV memiliki 349 layar yang tersebar di 57 site.

Dengan kata lain, perlu penambahan 43 lokasi bioskop dengan rata-rata 6 layar per lokasi selama 2 tahun. Apabila biaya yang diperlukan membangun satu layar berkisar Rp4 miliar-Rp6 miliar, maka secara kasar investasinya sebesar Rp1 triliun-Rp1,5 triliun.

“Jaringan kami beroperasi di 8 negara dan kami mempelajari salah satu pola untuk menjaga market stabil yakni konten lokal harus ada sebesar 50 persen. Nah, saat ini, kami masih 30 persen untuk konten lokal sehingga kami terus ekspansi ke luar kota besar sebab local content lebih banyak dinikmati oleh penonton di second tier city,” terang Head of Sales and Marketing CJ CGV Cinemas Manael Sudarman.

Perseroan mengklaim memiliki pangsa pasar di kisaran 22 persen dari total penjualan tiket yang mencapai 52 juta per akhir 2018.

Seorang pegawai membersihkan salah satu teater di jaringan bioskop Cinemaxx di Lippo Karawaci, Tangerang, Rabu (17/2/2016)./Reuters-Darren Whiteside

Kebangkitan industri film nasional saat ini, merupakan buah kerja banyak pihak, termasuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang mendorong deregulasi di bidang perfilman. Dengan dikeluarkannya bidang film dari Daftar Negatif Investasi (DNI) lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 44 Tahun 2016, investor asing makin tertarik menanamkan modalnya.

Selain CGV, yang sahamnya dimiliki Cheil Jedang Cheil Golden Village (CJ CGV) asal Korea Selatan, masih ada beberapa jaringan perusahaan bioskop lain di Indonesia. Seperti Cinemaxx yang sebagian sahamnya diakuisisi Cinepolis dari Meksiko, Cineplex 21 (dengan merek Cinema 21, Cinema XXI, The Premiere, IMAX), dan Platinum Cineplex.

Ada pula Flix Cinema yang dikembangkan Agung Sedayu Group, Kota Cinema Mall di kawasan Jati Asih, dan Lotte Cinema (bagian dari Lotte Group asal Korsel).

Investasi yang Menguntungkan
Para pemodal juga mengincar pembiayaan produksi film karena dinilai cukup menjanjikan. Ideosource misalnya, sebuah perusahaan ventura yang berfokus dalam industri digital dan kini mulai masuk dalam pembiayaan film di Indonesia.

Managing Partner Ideosource Venture Capital Andi Boediman menilai industri film Indonesia masih memiliki potensi besar. Itu sebabnya Ideosource Film Fund (IFF) didirikan sebagai dana investasi yang fokus untuk pembiayaan film Indonesia bekerja sama dengan produser.

Sejak Oktober 2017, IFF sudah berinvestasi di beberapa film seperti Ayat-ayat Cinta 2 dari MD Entertainment, Kulari ke Pantai dari Miles Film, Aruna dan Lidahnya dari Palari Films, dan Keluarga Cemara dari Visinema.  Gundala juga termasuk salah satunya.

“Target kami selanjutnya meningkatkan jumlah investasi film dan series dari 3-4 investasi menjadi setidaknya 10 investasi. Setiap produksi memerlukan Rp10 miliar-Rp15 miliar, jadi kami akan selalu kolaborasi dengan mitra produser berbagi risiko dan investasi,” tuturnya.

Andi berpendapat investasi dalam film lebih pendek dibandingkan dengan startup sehingga perputarannya jauh lebih cepat. Manajemen risiko juga perlu diperhatikan.

Berinvestasi sekaligus di 10 film menjadi strategi manajemen risiko yang sangat baik karena keuntungan dari film ‘jackpot’ dengan 1 juta penonton akan menutup semua kerugian yang mungkin dialami.

Investor juga harus jeli melihat genre film yang akan didanai. Dari perspektif IFF, setidaknya ada empat genre film yang terbukti memiliki pasar yang konsisten yakni komedi, drama, horor, dan drama Muslim.

Keuntungan bisnis dari investasi di bidang perfilman diakui cukup besar, terutama apabila tingkat Return on Investment (ROI) dapat terjaga tinggi. Wicky mengungkapkan dalam satu film berbiaya rendah yang mampu mencetak hits, pihaknya mampu mendapatkan ROI hingga 500 persen dari total biaya.

Butuh Stimulus
Direktur Deregulasi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Yuliot mengungkapkan, sejalan dengan dibukanya investasi bidang perfilman, perkembangan yang cukup positif terlihat dari beberapa parameter.

“Jumlah layar sinema dan jumlah produksi film meningkat cukup signifikan, lalu jumlah join produksi film dengan produser dari luar negeri juga bertambah. Tak hanya itu, ada juga peningkatan teknik dan kualitas film nasional serta peningkatan penonton film nasional,” katanya.

Mengutip data filmindonesia.or.id yang disajikan dalam Pemandangan Umum Industri Film 2019, jumlah bioskop meningkat tajam dari hanya 145 bioskop dengan 609 layar pada 2012 menjadi 343 bioskop dengan 1.756 layar pada Desember 2018.

Sayangnya, baik BKPM maupun Bekraf mengaku tidak memiliki data terperinci terkait total investasi bidang perfilman yang telah terealisasi sepanjang 2016-2019.

Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo menyatakan salah satu indikator yang menjadi perhatian Bekraf yakni peningkatan jumlah produksi film.

“Bisa diperkirakan dari jumlah produksi film. Tahun 2018 jumlahnya 203 film, tahun 2017 sekitar 160, dan tahun 2016 sekitar 130 film,” jelasnya.

Adapun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkapkan arus investasi bidang perfilman masih belum sesuai ekspektasi pascaderegulasi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid hal ini disebabkan dua faktor utama, yakni kurangnya koordinasi antar pemerintah serta kurangnya insentif.

“Tantangan terbesar regulasi soal DNI adalah kerja sama pemerintah pusat dan daerah untuk menciptakan iklim investasi yang menarik. Ambil contoh pengembangan lokasi pengambilan gambar, syarat utamanya adalah kebijakan dan regulasi yang jelas tentang aturan main, sebaiknya satu pintu sehingga memudahkan produksi,” paparnya.

Suasana syuting film Bebas di MRT Jakarta./Istimewa

Hilmar melanjutkan Indonesia perlu memberikan insentif untuk mendorong produksi film internasional. Kemendikbud pun mengaku tengah mengupayakan penyusunan rencana induk pengembangan perfilman.

Salah satu aspek yang perlu disoroti stakeholder adalah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Pasalnya, dampak arus investasi akan makin efektif mendongkrak pertumbuhan industri perfilman di Indonesia jika dibarengi dengan ketersediaan SDM.

Wicky membenarkan jumlah tenaga kerja terampil dan profesional yang dibutuhkan untuk memproduksi film tidaklah sedikit.

“Kalau tantangan di sisi regulasi sudah relatif tidak ada, tapi tantangannya sekarang adalah SDM, baik kru, penulis, maupun pemain. Industri kita sedang berkembang pesat, tapi pasokan untuk tiga hal tadi tidak sebanding dengan jumlah film yang diproduksi,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, film indonesia, fokus

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top