2020, Tekanan terhadap Kinerja Perdagangan Indonesia Bakal Makin Berat

Tekanan terhadap kinerja perdagangan Indonesia diperkirakan belum akan mereda seiring masih terus terkoreksinya pertumbuhan perdagangan global.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  14:42 WIB
2020, Tekanan terhadap Kinerja Perdagangan Indonesia Bakal Makin Berat
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan terhadap kinerja perdagangan Indonesia diperkirakan belum akan mereda seiring masih terus terkoreksinya pertumbuhan perdagangan global.

Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang dan Industri Indonesia Handito Joewono mengatakan pertumbuhan nilai ekspor RI pada tahun depan akan sulit menembus 5%.

Menurutnya hal itu tak lepas dari masih terus melesunya kinerja dagang global yang akan memengaruhi permintaan terhadap barang mentah, yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia.

“Kita lihat saja, WTO mengoreksi proyeksi kinerja dagangnya tahun depan. Artinya tekanan perlambatan kinerja dagang global masih akan membayangi. Tahun ini pun kita sudah susah payah untuk mendongkrak ekspor,” jelasnya kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Dia pun tidak yakin harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti batu bara dan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan mengalami kenaikan signifikan pada tahun depan, setelah terpuruk pada tahun ini. Hal itu menurutnya akan memengaruhi pertumbuhan nilai ekspor Indonesia.

“Hampir semua negara akan berusaha lebih tertutup terhadap impor tahun depan. Hal itu menjadi wajar karena kondisi global masih tidak menentu. Aktivitas produksi pun saya yakin akan berkurang, di beberapa negara besar.”

Adapun, berdasarkan laporan terbaru Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), pertumbuhan perdagangan dunia pada tahun depan hanya akan mencapai 2,7%. Proyeksi pertumbuhan tersebut turun dari prediksi pada April lalu sebesar 3,0%.  

Sementara itu, pada tahun ini WTO memprediksi pertumbuhan perdagangan global hanya akan tumbuh 1,2% atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yakni 2,6%.

Di sisi lain, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor RI sepanjang Januari-Agustus 2019 tercatat turun 8,28% secara tahunan menjadi US$110,07 miliar.

Di samping itu, ekspor nonmigas Indonesia pada  periode yang sama juga terkoreksi 6,66%  secara tahunan menjadi US$108,71 miliar. Capaian itu jauh di bawah target pertumbuhan ekspor nonimigas yang dicanangkan pemerintah sebesar 8%.  

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Soetrisno mengatakan tekanan terhadap perdagangan Indonesia pada 2020 akan muncul dari sisi impor.

Dia memperkirakan, negara-negara besar akan mencari pasar yang mudah untuk ditembus oleh produk-produk ekspornya.

“Indonesia sangat menjanjikan untuk dijadikan sasaran tujuan ekspor sejumlah negara ketika produk mereka dihambat di negara lain. Pasar kita besar dan industri kita belum mumpuni, sementara kita sering kali dipermasalahkan oleh negara lain ketika melakukan pembatasan impor.”

Untuk itu dia mendesak kalangan usaha di Indonesia memaksimalkan penggunaan produk dalam negeri, terutama terkait dengan penggunaan bahan baku penolong. Dia juga meminta pemerintah memaksimalkan pemberian insentif kepada berupa kemudahan ekspor bagi industri yang menggunakan bahan baku lokal.

Terpisah, ekonom Unversitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan tekanan kinerja perdagangan Indonesia pada tahun ini dan tahun depan akan lebih banyak disebabkan oleh meredupnya aksi ekspansi perusahaan domestik. Kondisi itu akan membuat sektor industri manufaktur sulit berkontribusi lebih besar untuk mendongkrak ekspor.

“Kalau kita lihat, komposisi penerbitan obligasi di Indonesia, 80% dikuasai oleh pemerintah atau BUMN, sisanya baru perusahaan swasta. Artinya, swasta memiliki ruang yang terbatas untuk mendapatkan pendanaan selain dari perbankan. Saya khawatir, situasi ini akan membuat ekspansi industri terutama yang berbasis ekspor tertahan,” jelasnya.

Dia menambahkan, hal tersebut akan diperparah oleh pertumbuhan perdagangan global yang masih lemah, seperti yang diprediksikan oleh WTO. Alhasil, tanpa adanya terobosan dari pemerintah, kinerja perdagangan terutama ekspor Indonesia masih akan kesulitan untuk tumbuh secara signifikan.

“Memang kita sudah punya beberapa perjanjian dagang dengan negara lain yang bisa diimplementasikan tahun depan. Namun dampaknya tidak bisa instan,” tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top