Pengadaan Solar HSD oleh TPPI, PLN Hemat Rp248 Miliar

Pengadaan solar jenis high speed diesel (HSD) oleh PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI) untuk memasok kebutuhan bahan bakar dua pembangkit PLN, berhasil menghasilkan penghematan bagi perseroan hingga Rp248,6 miliar.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  14:41 WIB
Pengadaan Solar HSD oleh TPPI, PLN Hemat Rp248 Miliar
ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pengadaan solar jenis high speed diesel (HSD) oleh PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI) untuk memasok kebutuhan bahan bakar dua pembangkit PLN berhasil menghasilkan penghematan bagi perseroan hingga Rp248,6 miliar.

TPPI memenangkan dua dari lima tender pengadaan HSD yang dilelang oleh PLN pada 2010. Dua tender yang dimenangkan tersebut yakni pengadaan HSD untuk pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Tambak Lorong di Semarang dan PLTGU Belawan di Medan.

Kontrak berlangsung selama empat tahun yakni dari 2011 hingga 2014. Namun, dalam praktiknya, TPPI hanya bisa memenuhi kesepakatan pengadaan HSD selama kurang lebih satu tahun saja.

Berdasarkan data PLN yang dipublikasikan oleh Katadata Insight Center (KIC), TPPI melakukan pengadaan HSD ke PLTGU Tambak Lorok selama Februari sampai Oktober 2011 dengan besaran penghematan  senilai Rp75,1 miliar. Sedangkan, pasokan HSD ke PLTGU Belawan hanya bisa dilakukan dari Februari 2011 hingga April 2012 dengan besaran penghematan yang dihasilkan Rp173,5 miliar.

Besaran penghematan tersebut diperoleh karena TPPI memberikan harga HSD yang lebih murah dibanding mitra lainnya, yakni untuk PLTGU Tambak Lorok mendapatkan harga sebesar MOPS + 2,730% dan PLTGU Belawan dengan harga MOPS + 1,683%.

Besaran harga yang ditawarkan TPPI tersebut lebih rendah dari penawaran Pertamina untuk PLTGU Muara Tawar yang senilai MOPS + 2,568%.

Apabila kontrak tersebut berlangsung sesuai jadwal, PLN memproyeksikan penghematan untuk pengadaan HSD mampu mencapai Rp1,57 triliun. Namun, karena kontrak yang hanya bisa berlangsung selama satu tahun saja, proyeksi tersebut tidak tercapai.

Selepas kontrak dengan TPPI tidak bisa berlanjut, pengadaan HSD untuk dua pembangkit tersebut kemudian berpindah ke Shell dan PT Kutilang Paksi Mas (KPM).

Hasilnya, selama kontrak tersebut, total penghematan yang dapat diperoleh perseroan adalah senilai Rp524,1 miliar atau 33,4% dari proyeksi awal.

Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan pengadaan HSD yang dilakukan TPPI tersebut sama sekali tidak menghasilkan kerugian untuk negara. Bahkan, dia menilai negara justru diuntungkan karena PLN berhasil melakukan penghematan.

Keuntungan negara bahkan dinilai juga berlipat karena mampu mengoptimalkan fungsi aset negara yakni kilang TPPI agar bisa beroperasi maksimal. Negara dapat memperoleh keuntungan dari penjualan produksi kilang TPPI yang melakukan pengadaan HSD untuk PLN.

"Dibandingkan dengan pengadaan yang konvensional, ini sungguh menguntungkan negara," katanya, Jumat (4/10/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top