Bappenas : Penurunan PMI Belum Indikasikan Penurunan Pertumbuhan Ekonomi

Merujuk pada data PMI Manufaktur yang dirilis oleh IHS Markit bulan ini, PMI Manufaktur per September 2019 tercatat pada angka 49,1 atau sedikit meningkat dibandingkan dengan Agustus yang tercatat pada angka 49.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  17:40 WIB
Bappenas : Penurunan PMI Belum Indikasikan Penurunan Pertumbuhan Ekonomi
Badan mobil baru dalam proses produksi di pabrik PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (25/4). - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA - Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang tercatat terus di bawah 50 dipandang belum sepenuhnya mengindikasikan penurunan laju pertumbuhan ekonomi.

Merujuk pada data PMI Manufaktur yang dirilis oleh IHS Markit bulan ini, PMI Manufaktur per September 2019 tercatat pada angka 49,1 atau sedikit meningkat dibandingkan dengan Agustus yang tercatat pada angka 49.

Dengan demikian, rata-rata PMI Manufaktur per kuartal III/2019 tercatat pada angka 49,2 atau yang terendah sejak 2016.

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Bambang Prijambodo mengatakan bahwa PMI Manufaktur yang tercatat di bawah memang menunjukkan adanya stagnansi atau perlambatan kinerja sektor industri manufaktur.

Namun, Bambang menilai temuan IHS Markit dalam PMI Manufaktur belum sepenuhnya mencerminkan dinamika industri manufaktur secara keseluruhan.

Lebih lanjut, penurunan PMI Manufaktur belum cukup untuk merepresentasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2019 secara keseluruhan.

"Hal ini karena [pertumbuhan ekonomi] juga ditentukan oleh kinerja sektor di luar industri manufaktur yang peranannya sekitar 80% [dari PDB]," ujar Bambang, Rabu (2/10/2019).

Deputi Bidang Koordinasi Ekonohmi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan bahwa penurunan PMI Manufaktur sejalan dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi global. Hal ini pada akhirnya juga menekan ekspor Indonesia.

Apabila dibandingkan dengan kuartal II/2019, PMI Manufaktur tercatat rata-rata pada angka 50,9 dengan capaian tertinggi pada Mei 2019 di mana PMI Manufaktur tercatat mencapai 51,6, meningkat dibandingkan dengan April 2019 yang tercatat pada angka 50,4.

Meski demikian, PMI Manufaktur mulai tercatat menurun pada Juni 2019 dengan capaian sebesar 50,6.

Dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari Kementerian PPN/Bappenas sebagaimana yang terlampir dalam laporan perkebangan ekonomi Indonesia dan dunia per kuartal II/2019, perekonomian Indonesia pada 2019 diproyeksikan masih tumbuh positif.

Meski demikian, Kementerian PPN/Bappenas mencatat bahwa perekonomian masih dibayangi risiko negatif yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari perkiraan.

Salah satu risiko yang dicatat oleh Kementerian PPN/Bappenas adalah kinerja industri manufaktur yang masih belum pulih.

Sebagai sektor dengan kontribusi yang paling besar terhadap PDB, perlambatan pada sektor ini bisa berdampak besar pada realisasi pertumbuhan ekonomi 2019.

Perlambatan sektor industri manufaktur pada semester I/2019 ditemukan industri manufaktur migas maupun nonmigas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa produksi industri manufaktur sudah melambat sejak kuartal II/2019.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) per kuartal II/2019 tercatat pada angka 3,62% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II/2019 yang mencapai 4,36% (yoy).

Capaian ini juga lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I/019 di mana pertumbuhan produksi IBS tumbuh sebesar 4,45% (yoy).

Apabila dibandingkan dengan kuartal ke kuartal, pertumbuhan produksi IBS per kuartal II/2019 tercatat mengalami kontraksi sebesar -1,91% (qtq). Padahal, pada kuartal yang sama tahun sebelumnya produksi IBS mampu tumbuh 1,49% (qtq).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pmi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top