Tantangan Sektor Manufaktur Masih Berat

Kinerja sektor manufaktur Indonesia dinilai tidak mengalami banyak perubahan signifikan pada September 2019.
Andi M. Arief & Oktaviano D.B. Hana
Andi M. Arief & Oktaviano D.B. Hana - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  16:06 WIB
Tantangan Sektor Manufaktur Masih Berat
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja sektor manufaktur Indonesia dinilai tidak mengalami banyak perubahan signifikan pada September 2019. Baik produksi maupun permintaan baru dari sektor industri nasional terus menurun.

Hal itu tercermin dalam Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis IHS Markit. Pada September 2019, PMI industri Indonesia berada di level 49,1.

Realisasi itu naik tipis dari 49,0 dari bulan sebelumnya. Padahal, indeks di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur bergerak ekspansif, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Dengan demikian, indeks manufaktur Indonesia pada akhir kuartal III/2019 itu menunjukkan penurunan lebih lanjut terkait kondisi kesehatan sektor tersebut.

"Sektor manufaktur Indonesia mengakhiri triwulan ketiga dengan catatan lemah, dengan kondisi operasional yang memburuk selama tiga bulan berturut-turut. Baik produksi maupun permintaan baru terus menurun," demikian tertulis dalam keterangan resmi IHS Markit, Selasa (1/10/2019).

Kondisi itu menyebabkan perusahaan mengurangi jumlah pekerja dan aktivitas pembelian. Dengan tekanan biaya berkurang, perusahaan memberikan diskon atas harga penjualan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Bernard Aw, kepala ekonom IHS Markit, mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur Indonesia terjebak dalam situasi yang menantang pada September 2019. Indeks PMI manufaktur Indonesia, katanya, mendekati posisi terendah dalam dua tahun dan menurun dalam tiga bulan berturut-turut.

Kondisi itu menyebabkan perusahaan mengurangi perekrutan dan aktivitas pembelian. "Survei juga menunjukkan bahwa kenaikan jumlah barang jadi di tengah-tengah penurunan penjualan. Tekanan harga juga berkurang dengan biaya output turun untuk pertama kalinya hanya dalam kurun waktu tiga tahun karena perusahaan menawarkan diskon guna menaikkan penjualan," ujarnya.

Untuk jangka pendek, Bernard Aw mengatakan sektor manufaktur nasional masih dihadapkan pada tantangan. Namun, untuk jangka panjang, prospek industri Indonesia masih positif.

"Sementara perkiraan jangka pendek cenderung suram, prospek jangka panjang masih bertahan positif, dengan mayoritas responden mengharapkan kenaikan output selama 12 bulan mendatang," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top