Industri Manufaktur Desak Perbankan Segera Pangkas Suku Bunga Kredit

Pelaku industri menilai penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia merupakan langkah yang baik, tetapi dampaknya tidak akan signifikan jika transmisinya ke suku bunga kredit berjalan lambat.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 20 September 2019  |  10:56 WIB
Industri Manufaktur Desak Perbankan Segera Pangkas Suku Bunga Kredit
Ilustrasi kegiatan industri manufaktur - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri menilai penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia merupakan langkah yang baik, tetapi dampaknya tidak akan signifikan jika transmisinya ke suku bunga kredit berjalan lambat.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia Firman Bakrie mengatakan penurunan suku bunga acuan tersebut akan mendorong pelaku industri untuk mengakses permodalan dari perbankan. Namun, akses permodalan tersebut belum dapat digunakan untuk memperluas akses ke pasar global.

“Kalau melihat market alas kaki saat ini rasanya sulit untuk digunakan mendorong ekspor. Mungkin lebih di market domestik,” katanya kepada Bisnis, Kamis (19/9/2019).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta menilai penurunan suku bunga acuan kali ini sangat tepat lantaran industri tekstil saat ini sedang terpuruk karena banjir produk impor. Menurutnya, penurunan tersebut dapat membantu pelaku industri mengelola arus kas dengan bantuan dari perbankan.

Namun menurutnya, hal tersebut hanya akan terjadi jika transmisi ke penurunan suku bunga pinjaman segera terjadi. Redma berharap agar transmisi ke penurunan suku bunga pinjaman dapat terjadi pada bulan ini.

“Baiknya tidak lebih dari 2 minggu, lebih cepat lebih baik. Tapi saya agak ragu perbankan bisa cepat menyesuaikan dengan Bank Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memperkirakan penurunan kali ini belum berdampak signifikan. Sobur mengatakan bahwa bunga pinjaman perbankan ke industri lokal masih lebih tinggi dibandingkan negara lainnya.

HIMKI menyatakan, suku bunga pinjaman terendah dimiliki oleh Malaysia yakni 4,6% dan diikuti oleh Filipina (5,5%), China (5,6%), Tahiland (6,8%), Vietnam (8,7%), dan Afrika Selatan (9,1%). Adapun, berdasarkan data HIMKI suku bunga pinjaman Indonesia mencapai 12,6%.

“Penting untuk komparasi,” ujarnya.

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim menyatakan penurunan suku bunga acuan tersebut merupakan langkah yang positif bagi sektor manufaktur. Setidaknya ada tiga hal yang dapat memengaruhi industri baja yakni penurunan modal kerja, menjaga daya beli konsumen langsung di sektor konstruksi, dan menjaga daya beli konsumen tidak langsung di sektor otomotif dan elektronika.

"Saat ini pilihannya adalah menjaga perekonomian nasional agar bisa melindungi dari krisis ekonomi yang diperkirakan terjadi tahun depan," katanya kepada Bisnis.

Silmy menambahkan transmisi ke penurunan suku bunga pinjaman harus dipercepat agar dampak krisis ke roda perekonomian minimal. Menurutnya, pemerintah harus berperan aktif dalam transmisi penurunan suku bunga pinjaman.

Silmy berujar krisis pada tahun depan dapat dijadikan peluang. "Sebaiknya maksimal 3 bulan [ke depan suku bunga pinjaman turun]."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top