Daya Beli Tertahan, Produksi Deterjen Tetap Naik

Asosiasi Pengusaha Deterjen Indonesia (Apedi) memprediksi volume produksi deterjen pada tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu walaupun daya beli masyarakat masih terpuruk.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 13 September 2019  |  14:31 WIB
Daya Beli Tertahan, Produksi Deterjen Tetap Naik
ilustrasi - businessalligators.com

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Deterjen Indonesia (Apedi) memprediksi volume produksi deterjen pada tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu walaupun daya beli masyarakat masih terpuruk. Hal tersebut disebabkan oleh hasil adaptasi pelaku usaha pada sistem penjualan deterjen di dalam negeri.

Wakil Ketua Apedi Budi Satrio mengatakan para pelaku industri mengurangi volume penjualan per kemasan untuk mengatasi penurunan daya beli masyarakat. Menurutnya, konsumen pada tahun ini semakin melihat nilai keekonomian deterjen lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

“Contoh [dalam penjualan per] botol, dulu kami [menjual per] 800ml, kami kurangi [sekarng menjadi] 400ml. Volumenya berubah,”  ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Menurutnya pelaku industri besar deterjen hanya mengalami pertumbuhan satu digit pada tahun lalu pada masa adaptasi. Adapun, pertumbuhan pelaku industri besar deterjen kini telah tumbuh dua digit pada semester I/2019.

Budi menyatakan volume produksi deterjen pada semester I/2019 tumbuh 10% secara tahunan. Menurutnya, hal tersebut akan berlanjut pada akhir tahun dan meningkat hingga 15%. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan tahun lalu di kisaran 10%--12%.

Adapun, Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat pertumbuhan industri kimia pada semester I/2019 mencapai 10,04% atau lebih baik dari pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yakni sekitar -8%. Pertumbuhan industri deterjen pada semester I/2018 sama dengan pertumbuhan pada semester I/2019 yakni sekitar 10%.

Budi menjelaskan walaupun daya beli masyarakat pada tahun lalu lebih rendah daripada tahun ini, konsumen hanya mengubah waktu pembelian deterjen yakni dari bulanan atau mingguan menjadi harian.

“Kebutuhan rumah tangga itu pasti dibeli [konsumen]. [Volume produksi] yang akan berkurang itu pengharum raungan [tahun lalu]. Deterjen pasti tetap dicari,” katanya.

Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor deterjen pada tahun lalu mencapai US$1 miliar. Kemenperin menilai industri deterjen di dalam negeri memiliki potensi ekspor yang besar, tapi sebagian besar bahan baku industri deterjen masih bergantung kepada impor.

Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Taufik Bawazier mengatakan sebanyak 80%-90% bahan bak industri deterjen masih bergantung kepada impor. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kandungan rahasia tiap produsen yang menyebabkan kementerian kesulitan dalam menghubungkan produsen kima hulu dengan para unit industri deterjen lokal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top