Bibit Awan Terpantau di Kalbar, Proses Hujan Buatan Dilakukan

Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, hujan buatan sudah mulai dioperasikan di wilayah Palembang dan Pekanbaru beberapa waktu lalu.
Desynta Nuraini
Desynta Nuraini - Bisnis.com 11 September 2019  |  00:29 WIB
Bibit Awan Terpantau di Kalbar, Proses Hujan Buatan Dilakukan
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati - bmkg.go.id

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui hujan buatan mulai dilakukan di sejumlah wilayah. Pasalnya, bibit awan sebagai modal untuk menurunkan hujan tersebut sudah terlihat.

Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, hujan buatan sudah mulai dioperasikan di wilayah Palembang dan Pekanbaru beberapa waktu lalu. Hari ini, upaya serupa dilakukan di Kalimantan Barat mengingat bibit awan muncul pada Senin (9/9/2019), sekira pukul 09.00 WIB.

“Sekarang disiapkan operasi penyemaian di Kalbar,” ujarnya saat menggelar konferensi pers di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Plt. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan menambahkan sampai dengan 6 September 2019, telah dilakukan 207 kali sorti dengan 160.816 kilogram garam untuk membentuk hujan buatan di sejumlah wilayah. Selain itu, KLHK bersama pihak terkait juga sudah melakukan water boombing sebanyak 66.349 kali dengan 239.633.200 liter air.

Patroli juga digencarkan di 6 provinsi dengan membentuk posko pemantauan. Diantaranya, 68 posko di Kalimantan Barat, 19 posko di Kalimantan Tengah, 24 posko di Kalimantan Timur, 82 posko di Riau, 75 posko di Sumatera Selatan, dan 14 posko di Jambi.

Raffles menuturkan, sampai dengan 31 Agustus ada 328.724 hektare. Namun dari jumlah tersebut, lahan gambut yang terbakar luasannya lebih rendah daripada lahan mineral.

Adapun lahan gambut yang terbakar sejumlah 89.563 hektare sementara lahan mineral 239.161 hektare.

Musim Hujan

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo menambahkan, awal musim hujan dan kemarau diprediksi agak mundur. Musim penghujan yang harusnya Oktober, diperkirakan baru muncul pada November 2019.

Akan tetapi itu tidak berlangsung untuk seluruh wilayah Indonesia pada umumnya. Hanya di wilayah Indonesia bagian barat yang memasuki musim penghujan sementara Indonesia bagian timur diprediksi masih berlaku kemarau.

“Ada potensi untuk daerah Sumatera, Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian barat dan sebagainya pada awal November sampai pertengahan hujan,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan potensi angin monsun sangat mempengaruhi terjadinya musim hujan atau kemarau di Indonesia. Sebab jika angin monsun asia aktif, otomatis hujan mulai turun. Tapi jikalau belum aktif, potensi musim kemarau masih mendominasi.

“Namun kalau kita lihat Oktober, November cenderung transisi, dominasi angin barat-timur melemah, kita harapkan bulan November tranboundary haze berkurang,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
BMKG, kemarau

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top