Pertamina Siapkan MFO Sulfur Rendah

PT Pertamina (Persero) mempersiapkan bahan baku kapal laut (marine fuel oil/MFO) untuk memenuhi penetapan aturan Organisasi Pelayaran Internasional (IMO) tahun depan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 11 September 2019  |  22:40 WIB
Pertamina Siapkan MFO Sulfur Rendah
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) mempersiapkan bahan baku kapal laut (marine fuel oil/MFO) untuk memenuhi penetapan aturan Organisasi Pelayaran Internasional (IMO) tahun depan.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan perseroan sedang mematangkan produksi MFO bersulfur rendah sesuai dengan aturan IMO yakni maksimal 0,5%. Adapun, produksi MFO rendah tersebut akan diproduksi dan digudangkan di Jakarta dan Balikpapan.

“Kebutuhan costumer atas MFO low sulphur adalah peluang bisnis  yang akan kami tindak lanjuti. Tantangannya adalah persiapan infrastruktur MFO low sulphur dan MFO high sulphur untuk memnuhi demand tersebut pada waktunya,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Fajriyah mengatakan saat ini perseroan telah mempersiapkan untuk memproduksi 380.000 kiloliter MFO 180 per tahunnya. Adapun, MFO 180 memiliki kadar sulfur di bawah 1,5%.

Hingga aturan IMO berlaku pada awal tahun depan, Pertamina akan tetap mengikuti ketetapan aturan sulfur saat ini yakni maksimal 3,5%. “Keperluan {MFO] sulfur rendah akan mulai tersedia Januari 2020.”

Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Eddy Kurniawan Logam sebelumnya memprediksi penerapan MFO dengan kadar sulfur di bawah 5% hanya akan meningkatkan utilitas reparasi tidak lebih dari 5%. Penerapan MFO bersulfur rendah tersebut akan membuat kapal-kapal berbobot besar memasang komponen baru yakni scrubber.

“Apakah ada pekerjaan buat galangan? Ya ada, tapi tidak signifikan. Scrubber ini lebih mahal di alatnya daripada ongkos pasangnya. Jadi, yang lebih diuntungkan adalah manufaktur dari alat tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, belum ada pelaku industri lokal yang memproduksi scrubber. Alhasil, pemilik kapal harus mengimpor alat tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top