Ada Peluang Penurunan Tarif Listrik Industri

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyatakan tahun ini proyek 35.000 megawatt akan mulai berfungsi, khususnya di Jawa, sehingga ada potensi penurunan tarif listrik bagi sektor manufaktur.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 09 September 2019  |  14:35 WIB
Ada Peluang Penurunan Tarif Listrik Industri
Teknisi memasang jaringan kelistrikan baru - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyatakan tahun ini proyek 35.000 megawatt akan mulai berfungsi, khususnya di Jawa, sehingga ada potensi penurunan tarif listrik bagi sektor manufaktur.

Direktur Pengadaan Strategis II PLN Djoko Rahardjo Abumanan mengatakan pihaknya telah melakukan sinkronisasi energi pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan teknologi ultra supercritical (USC) pekan lalu. Adapun, PLTU  tersebut memiliki kapasitas 1.000 megawatt dan tari US$4,2 sen/kWh.

“Kami berharap [tarif listrik untuk industri] turun. Kami ingin lebih murah dari pesaing kami yaitu Vietnam di posisi US$7,1 sen/kWh. Tarif kami masih lebih tinggi dari itu. Itu yang kami kejar,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (8/9/2019).

Djoko mengatakan turunnya tarif listrik tersebut harus diikuti dengan pertumbuhan penggunaan listrik oleh pelaku industri agar lebih murah. Menurutnya, penggunaan listrik oleh sektor manufaktur pada tahun ini tidak tumbuh. Jika penggunaan listrik tidak tumbuh dan proyek 35.000 megawatt berjalan, tarif listrik akan naik alih-alih turun.

Djoko mengatakan tarif listrik bagi sektor industri kini sekitar US$7,12 sen/kWh atau Rp997/kWh. Djoko menyampaikan berfungsinya PLTU USC akan membuat komposisi gas dari biaya pokok PLN (BPP) berkurang. Dengan kata lain, tarif listrik dapat lebih murah.

Berdasarkan BPP Juli 2019, komposisi gas dalam penciptaan energi berkontribusi sekitar 25,5%, sedangkan biaya penggunaan gas menopang 41,8% dari total biaya bahan bakar.

Namun, Djoko mengatakan PT Perusahaan Gas Negara ingin agar PLN mempertahankan komposisi penggunaan gas untuk energi di sekitar level 20%.

“Akan terjadi regional balance karena sisi barat akan masuk dari PLTU [USC berkapasitas 1.000 megawatt]. Gasnya tidak kita pakai lah,” katanya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta mengemukakan tarif listrik berkontribusi sekitar 22%-24% dari struktur biaya industri tekstil.

Redma memproyeksikan penyamaan tarif energi akan membuat utilitas industri tekstil melonjak ke level 85%. Adapun, utilitas industri benang dan serat berada di level 60%, sedangkan industri tenun dan rajut sekitar 40%.

“Bahkan, kalau semua cost factor bisa selevel [dengan industri di negara pesaing] utilitas akan ke 95% karena akan dorong ekspor yang kemudian akan mendorong investasi baru tanpa perlu insentif besar-besaran,” ujarnya kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tarif listrik

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top