Investasi Eksplorasi Rendah Jadi Penghambat Giant Discovery Tambang Emas

Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menilai meskipun harga emas cukup stabil tetapi jika tanpa dibarengi dengan investasi eksplorasi maka tidak akan berpengaruh pada prospek pertambangan emas di Indonesia.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  22:18 WIB
Investasi Eksplorasi Rendah Jadi Penghambat Giant Discovery Tambang Emas
Aktivitas pekerja tambang di Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, Desa Bantar Karet, Bogor, Jawa Barat, Rabu (14/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menilai meskipun harga emas cukup stabil tetapi jika tanpa dibarengi dengan investasi eksplorasi maka tidak akan berpengaruh pada prospek pertambangan emas di Indonesia.

Menurutnya, investasi eksplorasi yang masih rendah menjadi batu sandungan dalam penemuan cadangan besar atau giant discovery untuk pertambangan di indonesia termasuk komoditas emas.

Saat ini tambang emas yang berjalan aktif adalah yang dimiliki perusahaan skala besar seperti Freeport, Amman Mineral, Merdeka Copper, J Resources, dan Indo Muro Kencana.

Padahal, di saat semua harga komoditas tambang menurun, hanya nikel, emas, dan perak yang menjadi pengecualian. Bahkan, harga emas yang paling kecil fluktuasinya atau terhitung memiliki harga yang cukup stabil.

Irwandy menilai eksplorasi pada daerah baru atau green field untuk tambang emas masih rendah.

"Jadi prospek emas masih menjanjikan ke depan," katanya kepada Bisnis, Selasa (20/8/2019).

Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sukmandaru Prihatmoko menilai rendahnya investasi eksplorasi disebabkan karena terganjal persoalan regulasi.

Tidak adanya ijin dari daerah untuk melakukan eksplorasi menjadi penghambat masuknya investasi tersebut.

Padahal dari sisi geologi, investasi eksplorasi tambang emas di Indonesia sangat menarik. Potensi tambang emas di Indonesia tidak hanya berada di daerah busur magmatik atau zona erupsi tetapi juga orogeni yakni daerah dengan struktur geologi yang kuat.

"Secara geologi bagus tetapi secara daerah yang secara legal boleh dieksplorasi sangat minim, banyak daerah prospek yang tidak bisa dimasuki karena izinnya minim," katanya. 

Adapun PT Agincourt Resources menganggarkan US$25 juta untuk kegiatan eksplorasi pada tahun ini guna mendapatkan cadangan baru yang bisa memperpanjang umur tambang.

Berdasarkan laporan tahunan 2018 Agincourt Resources, sumber daya emas hingga 31 Desember 2018 sebanyak 8,1 juta ounces dan perak sebanyak 69 juta ounces.

Wakil Presiden Direktur dan CEO Agincourt Resources Tim Duffy mengatakan cadangan tersebut diperkirakan bisa ditambang selama 16 tahun. Namun, pihaknya terus melakukan eksplorasi untuk memperpanjang umur tambang tersebut.

"Kami masih bisa menambang 16 tahun, tapi kalau bisa diperpanjang beberapa tahun lagi mengapa tidak," katanya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top