Juli 2019, Serapan Semen Anjlok Lagi

Konsumsi semen pada Juli 2019 tidak sesuai dengan harapan pelaku industri. Pasalnya, konsumsi semen pada Juli 2018 sudah mulai menanjak, sedangkan konsumsi pada Juli 2019 justru kontraksi 1,6% menjadi 6,3 juta ton.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  06:00 WIB
Juli 2019, Serapan Semen Anjlok Lagi
Pekerja memindahkan semen Tonasa (Semen Indonesia Group) ke atas kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/6). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Konsumsi semen pada Juli 2019 tidak sesuai dengan harapan pelaku industri. Pasalnya, konsumsi semen pada Juli 2018 sudah mulai menanjak, sedangkan konsumsi pada Juli 2019 justru kontraksi 1,6% menjadi 6,3 juta ton.

Adapun konsumsi pada Januari—Juli turun 2% menjadi 35,7 juta ton atau lebih rendah sekitar 738.000 ton secara tahunan.

Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan, penurunan tersebut disebabkan oleh serapan di pulau Sumatera dan pulau Jawa yang kembali anjlok pada Juli.

“[Konsumsi di pulau] Jawa mengalami penurunan sangat tajam, terutama di daerah DKI Jakarta turun sekitar 30% dan Jawa Tengah turun sekitar 23%,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (15/8/2019).

Secara konsolidasi, Widodo mencatat penurunan konsumsi di pulau Sumatera (-6,8%), Jawa (-1,3%), dan Nusa Tenggara (14,6%) merupakan pendorong penurunan konsumsi pada Juli. Sementara itu, ketiga daerah tersebut berkontribusi sekita 75% dari total kebutuhan nasional.

Alhasil, peningkatan serapan di Pulau Kalimantan (8%), Sulawesi (7,8%, dan Maluku dan Papua (9,8%) tidak dapat menutupi penurunan konsumsi di ketiga daerah lainnya.

Widodo berujar walaupun konsumsi pada semester II/2019 konsumsi semen biasanya melonjak, peningkatan konsumsi agar tidak lebih rendah dari tahun lalu cukup berat.

Pasalnya, peningkatan konsumsi semen pada tahun lalu ditopang oleh pengerjaan infrastruktur di pulau Jawa dan Sumatera yang cukup banyak. Namun demikian, pengerjaan proyek-proyek tersebut sebagian besar telah rampung.

Widodo menyampaikan rendahnya serapan selama tuju bulan pertama tahun ini membuat utilitas tanur putar hanya 64%, sedangkan utilitas cement mill hanya 56%. Maka dari itu, banyak produsen semen yang menghentikan sebagian unit produksinya lantaran kondisi pasar yang tidak sesuai dengan kapasitas produksi.

“Ini kelihatannya akan terus berlangsung apabila tidak ada kenaikan permintaan yang signifikan. Karena selama 4 tahun terakhir rata-rata kenaikan permintaan hanya berkisar 3%--5% atau sekitar 2—3 juta ton,” katanya.

Oleh karena itu, Widodo berharap agar pemerintah tidak menerbitkan pendirian pabrik semen baru. Pasalnya, kapasitas produksi semen akan bertambah 8 juta ton oleh produksi 3 pabrik baru pada awal 2021. “Sekarang sedang penyelesaian konstruksinya.”

Walaupun permintaan pada Januari—Juli rendah, Widodo optimistis permintaan lokal dapat melonjak pada September—Desember. Hal tersebut mengingat siklus permintaan industri semen yang lebih besar 10% pada semester II daripada semester I lantaran sebagian proyek pemerintah akan berlangsung pada periode tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri semen

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top