Staf Ahli Menpar Sebut Ada 2 Syarat Pariwisata Sebagai Primadona Ekonomi

Peran anak-anak muda dalam mendorong pengambangan pariwisata saat ini sangat besar. Perkembangan teknologi khususnya internet dan media sosial menjadi sarana promosi wisata paling mudah dan efektif.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  14:26 WIB
Staf Ahli Menpar Sebut Ada 2 Syarat Pariwisata Sebagai Primadona Ekonomi
Staf Ahli Menteri Pariwisata bidang Ekonomi dan Kawasan Kreatif, Anang Sutono (empat dari kiri), Wakil Gubernur Sumatra Selatan Mawardi Yahya (baju putih), dan Direktur Politeknik Pariwisata Palembang Zulkifli Harahap berfoto bersama dengan mahasiswa baru Poltekpar Palembang.

Bisnis.com, JAKARTA — Industri pariwisata nasional perlu memerhatikan dua syarat dasar untuk menjadikan wisata sebagai primadona ekonomi ke depan.

Syarat pertama, masyarakat harus mencintai Tanah Air, dan kedua pelaku pariwisata harus memiliki Tourism Ambassador Behaviour (TAB) atau berperilaku sebagai duta pariwisata. 

Staf Ahli Menteri Pariwisata bidang EKonomi dan Kawasan Kreatif Kementerian Pariwisata Anang Sutono mengatakan bahwa cinta tanah air diwujudkan antara lain dalam cinta daerah, cinta budaya, cinta kuliner, dan cinta lingkungan.

“Cinta-cinta inilah yang kemudian akan dipromosikan oleh para duta pariwisata setempat,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu (14/8/2019).

Hal itu disampaikan Anang Sutono saat memberikan Studium Generale dengan topik “Wonderful Tourism Ambassador 4.0 for Super Society 5.0”di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Palembang.

Menurutnya, peran anak-anak muda dalam mendorong pengambangan pariwisata saat ini sangat besar. Perkembangan teknologi khususnya internet dan media sosial menjadi sarana promosi wisata paling mudah dan efektif.

Hanya saja, setiap masyarakat harus menyadari bahwa dalam mengunggah atau mempromosikan wisata satu daerah, harus dibekali dengan perilaku atau attitude yang baik untuk membangun citra positif lokasi wisata.

“Dalam konteks revolusi industri 4.0, setiap anak didik harus memiliki materi digital karakter yang ber-atitude dan berkeahlian yang sesuai dengan perkembangan aspek-aspek digital atau berbasis internet. Tidak cukup hanya menjadi orang yang mampu memengaruhi saja tetapi juga menjadi orang yang familiar dengan internet, sebagai misal. Jika kemampuan itu tidak ada, sudah barang tentu akan memperlambat perkembangan pariwisata dan kalah berkompetisi dengan negara lain,” katanya.

Selain itu, pemimpin daerah harus memastikan tata kelola industri wisata yang benar. Dia menilai pariwisata hanya menjadi bisnis instan jika hanya sekadar bicara kesejahteraan saja tanpa melihat aspek lingkungan dan masyarakatnya.

“Dalam konteks inilah, pariwisawa yang berkelanjutan harus berangkat dari cinta tanah air.  Tanah dan air yang kita miliki harus dirawat dan dijaga kelestarian lingkungannya atau tidak dirusak. Tanah dan air ini akan menjadi place bagi para wisatawan yang datang,” katanya.

Pemerintah daerah bisa berperan mendorong masyarakat berperilaku sebagai duta, yang senantiasa mengingatkan dan berkomunikasi satu-sama lain  termasuk di dalamnya saling mengedukasi agar tanah air menjadi sumber kehidupan dan sekaligus destinasi wisata yang berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatra Selatan Mawardi Yahya memastikan pemerintah Sumsel mendukung kemajuan Poltekpar Palembang untuk menjadi sekolah unggulan yang menghasilkan SDM berkualitas di bidang pariwisata, mengingat Palembang sudah menjadi tujuan destinasi sport tourism di Indonesia.

SDM yang dihasilkan oleh Poltekpar Palembang harus mampu menyesuaikan perubahan cepat yang terjadi di dunia pariwisata termasuk berkarakter jujur, kerja keras, tangguh dan gigih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
palembang, pariwisata

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top