Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

6 Kiat Atasi Inflasi Musim Kemarau

Untuk mencegah inflasi bahan pangan yang tinggi akibat keterbatasan stok selama musim kemarau ini enam langkah yang harus diambil pemerintah pusat dan daerah.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  23:54 WIB
Peta prakiraan awal musim kemarau di Jawa Tengah. (Antara/BMKG)
Peta prakiraan awal musim kemarau di Jawa Tengah. (Antara/BMKG)

Bisnis.com, JAKARTA -- Untuk mencegah inflasi bahan pangan yang tinggi akibat keterbatasan stok selama musim kemarau ini enam langkah yang harus diambil pemerintah pusat dan daerah.

Peneliti Bidang Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menyatakan langkah pertama yang harus diambil pemerintah adalah membenahi data luas lahan pertanian cabai dan padi seluruh Indonesia.

"Jadi kita tahu berapa ketersediaan lahan. Bertambah atau berkurang," ungkap Abdul saat dihubungi Bisnis, Kamis (1/8/2019).

Menurut Abdul Manap, langkah kedua adalah mengoptimalisasi fungsi resi gudang sebagai sistem penyimpanan bahan pangan. Dia menilai resi gudang belum menyimpan produk komoditi bahan makanan selama panen dengan baik. Alhasil ketika memasuki musim kemarau atau paceklik stok menjadi terbatas.

"Jadi saat panen itu harus disimpan saat kemarau baru dikeluarkan. Ini khususnya di daerah yang komoditasnya padi," sambung Abdul.

Ketiga adalah menguatkan peran Bulog selain menjaga ketersediaan komoditi beras namun juga produk bahan pangan lain seperti cabai dan bumbu-bumbuan.

Keempat adalah pemberian asuransi pertanian dari pemerintah kepada petani. 

Abdul menilai peran krusial ini tidak bisa diberikan kepada swasta karena resiko bisnisnya tinggi. Sementara pemerintah punya kewajiban memastikan ketersediaan bahan pangan dan stabilisasi harga.

Kelima adalah pemerintah harus memperbaiki tata niaga atau memangkas rantai pasokan makanan. 

Dia menilai selama ini bahan pangan khususnya cabai harus tersentralisasi di Pasar Induk Kramat Jati baru didistribusikan ke daerah lain. Sistem itu menurut Abdul telah membebani biaya logistik pangan kepada konsumen.

Keenam adalah pentingnya pemerintah mengedukasi masyarakat menggunakan cabai olahan. Langkah ini juga hanya bisa ditempuh jika pemerintah melakukan industri cabai segar menjadi cabai olahan.

"Kita ini maunua cabai segar dibandingman cabai kering halus. Jadi harus memperbaiki pola konsumsi," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top