CORE Ungkap Fakta Unik Dibalik Turunnya Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia

Keunikan ini menyangkut jumlah pengangguran terbuka di rentang usia 25-29. Ada anomali yang muncul dari kelompok usia tersebut dibanding tingkat pengangguran terbuka di Indonesia
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  04:25 WIB
CORE Ungkap Fakta Unik Dibalik Turunnya Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia
Mencari pekerjaan - rifemagazone.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA - Ada fakta unik dibalik menurunnya jumlah pengangguran terbuka di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir.

Peneliti Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Akhmad Akbar mengungkap, fakta unik itu adalah naiknya persentase penganggur berusia 25-29 dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menjadi anomali ditengah selalu turunnya jumlah penganggur terbuka pada periode yang sama.

"Tingkat pengangguran usia 25-29 meningkat terus tiga tahun terakhir. Sangat disayangkan karena ini adalah kelompok usia produktif," ujar Akbar di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Jumlah pengangguran terbuka di Indonesia per Februari 2019 sebanyak 6,82 juta orang atau 5,01 persen dari jumlah angkatan kerja. Jumlah itu turun dari pengangguran terbuka pada februari 2018 sebanyak 6,87 juta orang atau 5,13 persen.

Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, tingkat pengangguran terbuka di rentang 25-29 tahun selalu naik sejak februari 2017-februari 2019. Padahal, di periode yang sama tren penurunan jumlah penganggur terjadi di kelompok usia lain.

"Untuk melihat lebih detail harus melihat data mikro BPS. Tapi yang bisa saya kaitkan, kelompok usia itu adalah mereka yang belum lama lulus kuliah, atau lulusan sarjana. Itu bisa dikaitkan dengan data distribusi penganggur dari kelompok pendidikan," tuturnya.

Berdasarkan data BPS per Februari 2019, persentase penganggur dari kelompok pendidikan lulusan Diploma atau Sarjana masing-masing sebesar 6,89 persen dan 6,24 persen. Penganggur terbanyak dari kelompok pendidikan berasal dari lulusan SMK sebanyak 8,63 persen.

CORE juga menyoroti masih banyaknya masyarakat yang hidup di kategori rentan miskin. Hingga Maret 2018 ada 23,56 juta masyarakat yang masuk kategori rentan miskin. Menurut Akbar, masyarakat di kategori ini harus terus dilindungi agar tidak menjadi miskin.

"Kelompok rentan miskin adalah mereka yang belanja di atas garis kemiskinan tapi jika ada sesuatu, misalnya sakit dan tidak bekerja, mereka akan menjadi miskin. Ini harus dapat perhatian serius karena bisa jadi bom waktu apalagi jika kita tak punya jaminan sosial bagi mereka jika ada apa-apa," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pengangguran

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top