Wapres JK : Indonesia Belum Bisa Lepas dari PLTU Batu Bara

Indonesia belum bisa menghilangkan ketergantungan akan energi listrik yang bersumber dari fosil seperti batu bara dan Solar.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  15:49 WIB
Wapres JK : Indonesia Belum Bisa Lepas dari PLTU Batu Bara
Pekerja berkomunikasi dengan operator alat berat pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315 MW di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA -- Indonesia belum bisa menghilangkan ketergantungan pada energi listrik yang bersumber dari fosil seperti batu bara dan solar.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan saat ini biaya produksi kilowatt hour (KwH) listrik berbasis batu bara hanya berkisar 5,5 sen. Sementara untuk pembangkit jenis lain seperti energi baru terbarukan berkisar 6-10 sen per kWh.

"Yang paling murah PLTU batu bara. Sekarang ini bisa dijual katakanlah 5,5 sen per kwh. Kalau geothermal atau hydro antara 6-8 sen. Mahal. Kalau matahari sekitar 10 sen," kata Jusuf Kalla (JK) dalam Mini Seminar 'Geopolitik Transformasi Energi' di Jakarta, Rabu (31/07/2019).

Untuk itu, kata JK, Indonesia tidak bisa serta merta beralih ke energi terbarukan sepenuhnya. Saat ini yang paling murah adalah biaya pembuatan pembangkit berbasis bahan bakar fosil.

Kelebihan lain pembangkit berbahan bakar fosil adalah tidak bergantung dengan alam. Ia menyebutkan pembangkit energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga angin, panas bumi ataupun air sangat bergantung dengan keadaan alam dan tidak bisa dipindah-pindahkan.

Meski pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan relatif masih lebih mahal, JK menyebutkan secara keseluruhan jika menghitung biaya lingkungan maka pembangkit fosil ini kotor dan menimbulkan masalah kesehatan.

"Jadi memang geothermal [energi terbarukan] lebih mahal. Tetapi biaya lingkungannya nol. Kalau fosil biaya lingkungannya mahal. Perlu dihitung. Kalau dihitung biaya lingkungan, maka yang paling mahal itu PLTU," katanya.

Menurut JK, yang pada masa mudanya mengendalikan grup Bukaka, Indonesia telah memiliki peta jalan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Ditargetkan pada 2025 sedikitnya 23 persen pembangkit listrik yang ada di Indonesia bersumber dari energi terbarukan.

"Potensi kita cukup kuat. [Potensi] geothermal cukup bisa mencapai 40.000 megawatt, hidro [PLTA] kira-kira bisa 60.000 Megawatt potensinya. Selama hutan kita baik. Kalau hutan kita dibabat pasti turun," kata JK.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, pltu, energi terbarukan

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top