Kementerian ESDM dan PLN Teken MoU Eksplorasi Wilayah Panas Bumi Mataloko

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan PT PLN (Persero) melakukan penandatangan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) studi eksplorasi dan pengeboran sumur produksi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Mataloko.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  10:15 WIB
Kementerian ESDM dan PLN Teken MoU Eksplorasi Wilayah Panas Bumi Mataloko
Pengecekan rutin pembangkit listrik tenaga panas bumi milik PT. Pertamina Geothermal Energy - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA--Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan PT PLN (Persero) melakukan penandatangan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) studi eksplorasi dan pengeboran sumur produksi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Mataloko.

Penandatangan MoU pada awal pekan ini tersebut dilakukan antara Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar dan Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN Sripeni Inten Cahyani.

Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan pemerintah berkomitmen meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi NTT melalui percepatan proyek infrastruktur kelistrikan yang bersumber pada energi panas bumi. Penandatangan MoU tersebut dinilai merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah. 

Adapun Pulau Flores di NTT memiliki 12 wilayah dengan potensi panas bumi yang tiga diantaranya telah mendapatkan izin pengelolaan WKP, yakni Ulumbu, Mataloko, dan Sokoria dengan total kapasitas terpasang mencapai 12,5 megawatt (MW).

Dengan pemanfaatan potensi panas bumi tersebut, ke depan diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT secara signifikan. Kementerian ESDM mencatat rasio elektrifikasi NTT termasuk yang terendah di Indonesia dengan capaian 72 persen hingga Juni 2019.

"Seiring dengan berkembangnya wisata di wilayah tersebut, kebutuhan listrik di NTT terus meningkat. Saat ini, sebagian besar kebutuhan listrik NTT masih dipasok oleh pembangkit listrik tenaga diesel [PLTD]," katanya melalui keterangan resmi, Rabu (24/7/2019). 

Dalam kerja sama ini, Kementerian ESDM melalui Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE) dan BLU Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) akan melaksanakan beberapa studi panas bumi, meliputi studi mitigasi risiko, studi geologi geokimia geofisika, studi analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal), serta penggunaan peralatan rig hidrolik (mobile hydraulic rig). 

Sebelumnya, BLU Lemigas dan PLN telah bekerja sama untuk pengadaan jasa konsultasi perhitungan losses actual regasifikasi Blok Arun dan pengadaan jasa konsultasi kajian harga gas untuk kelistrikan PLN.

Adapun peran Badan Geologi dalam kerja sama ini akan dilaksanakan oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP) karena memiliki kemampuan dan peralatan untuk pemboran eksplorasi panas bumi. 

Sementara itu, PT PLN Gas dan Geothermal (PT PLN GG) sebagai anak perusahaan PLN yang menangani bidang infrastruktur gas dan penyediaan tenaga listrik panas bumi, ditugasi untuk mengembangkan WKP Mataloko dalam pembangunan PLTP 2,5 MW.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, panas bumi, kementerian esdm

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top