Hingga Semester I/2019, Defisit APBN Capai Rp135,8 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa hingga semester I/2019, defisit APBN 2019 tercatat mencapai Rp135,8 triliun atau 0,84% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  17:42 WIB
Hingga Semester I/2019, Defisit APBN Capai Rp135,8 Triliun
Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kedua kanan), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kiri) dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa hingga semester I/2019, defisit APBN 2019 tercatat mencapai Rp135,8 triliun atau 0,84% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Jika dibandingkan dengan semester I/2018 angka ini meningkat. Pada semester I/2018 defisit APBN tercatat Rp110,6 triliun atau 0,75% dari PDB.

Sri Mulyani menyebut, defisit ini menandakan pengalokasian anggaran secara produktif untuk infrastruktur. Selain itu, defisit APBN 2019 diklaim masih lebih baik dibandingkan dengan APBN 2016 dan APBN 2017.

Sementara itu, kinerja pendapatan negara sampai dengan semester I/2019 tercatat mengalami pelambatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan pelemahan pertumbuhan tersebut pemerintah memproyeksikan realisasi pendapatan negara 2019 hanya berada pada angka 93,8% dari target 2.030,8 triliun atau shortfall sebesar Rp134,3 triliun.

Berdasarkan paparan Kemeterian Keuangan di DPR, realisasi pendapatan negara semester I/2019 hanya tumbuh 7,8% atau mencapai Rp898,8 triliun dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 16%.

Pelambatan kinerja pendapatan negara ini dipicu oleh kinerja penerimaan perpajakan yang hanya tumbuh 5,4% dan pertumbuhan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mencapai 18,2%.

"Penurunan kinerja penerimaan ini karena sejumlah hal misalnya karena ICP yang lebih rendah dari asumsi dam lifting minyak dan gas yang juga lebih rendah," kata Sri Mulyani.

Selain tren komoditas yang mengalami penurunan, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa pelambatan pendapatan negara tersebut disebabkan oleh penerimaan perpajakan yang hanya tumbuh 5,4%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apbn, sri mulyani, defisit anggaran

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top