China Diperkirakan Catat Pertumbuhan PDB Paling Lambat dalam 27 Tahun Terakhir

Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat dengan laju terlemah dalam setidaknya 27 tahun pada kuartal kedua, memperkuat perlunya tambahan stimulus karena perang perdagangan dengan Amerika Serikat yang berlarut-larut. .
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  07:39 WIB
China Diperkirakan Catat Pertumbuhan PDB Paling Lambat dalam 27 Tahun Terakhir
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat dengan laju terlemah dalam setidaknya 27 tahun pada kuartal kedua.

Hal ini memperkuat perlunya tambahan stimulus karena perang perdagangan dengan Amerika Serikat yang berlarut-larut. .

Pemerintah kemungkinan akan meningkatkan langkah-langkah dukungan untuk mencegah kehilangan pekerjaan massal yang dapat menimbulkan ancaman bagi stabilitas sosial, namun analis mengatakan ruang untuk stimulus agresif dibatasi oleh kekhawatiran meningkatnya tingkat utang yang sudah tinggi dan risiko struktural.

"Perlambatan yang membayangi ekonomi China diperkirakan tidak akan hilang dalam waktu dekat karena tantangan di sisi domestik dan eksternal," tulis analis di ANZ dalam sebuah catatan, seperti dikutip Reuters.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 6,2 persen pada kuartal II/2019 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, laju paling lambat sejak kuartal pertama 1992.

Perlambatan tersebut menandai hilangnya momentum lebih lanjut dari kuartal sebelumnya yang mencatat pertumbuhuan PDB 6,4 persen, yang dapat membawa pertumbuhan ekonomi setahun penuh ke level terendah dalam 30 tahun terakhir sebesar 6,2 persen.

Pemerintah telah mengandalkan stimulus fiskal untuk mendukung pertumbuhan tahun ini, dengan mengumumkan pemotongan pajak besar-besaran senilai hampir 2 triliun yuan dan kuota 2,15 triliun yuan untuk penerbitan obligasi khusus oleh pemerintah daerah yang bertujuan untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur.

Namun stimulus tersebut tidak direspons dengan cepat oleh ekonomi dan kepercayaan bisnis masih goyah, yang berujung pada tertekannya investasi. Investor khawatir perang perdagangan yang berlarut-larut dapat memicu resesi global.

Pemerintah akan menerbitkan data PDB kuartal kedua pada hari Senin (15/7/2019), bersama dengan data aktivitas untuk bulan Juni yang dapat menunjukkan berlanjutnya pelemahan.

Sebelumnya, data pada hari Jumat menunjukkan ekspor jatuh pada bulan Juni setelah AS menaikkan tarif barang-barang impor China dengan tajam, sementara impor menyusut lebih dari yang diperkirakan menyusul permintaan domestik yang lambat. Pinjaman bank dan data kredit sebagian besar solid.

Indeks resmi sektor manufaktur untuk bulan Juni menunjukkan produsen di China mengurangi jumlah tenaga kerja pada laju tercepat sejak krisis keuangan global satu dekade lalu.

Akankah PBOC Mengikuti The Fed?

Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan bulan ini bahwa China memangkas rasio persyaratan cadangan bank (RRR) dan alat pembiayaan lainnya secara tepat waktu untuk mendukung perusahaan yang lebih kecil, sambil mengulangi janji untuk tidak menggunakan gelontoran stimulus yang besar.

Investor menantikan apakah bank sentral China, People Bank of China (PBOC), akan mengikuti Federal Reserve AS dalam kebijakan pelonggaran moneternya.

Sebagian besar analis percaya bahwa PBOC kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga berbasis pasar yang baru dikembangkan, atau terus memotong RRR, terutama untuk bank kecil, jika memilih untuk mengikuti The Fed.

Ekonom dalam jajak pendapat Reuters terbaru memperkirakan dua kali pemotongan RRR lebih dari 50 basis poin masing-masing pada kuartal ini dan kuartal keempat, tetapi tidak memperkirakan PBOC memangkas suku bunga pinjaman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top