AALI Upayakan Tekan Capex Rp400 Miliar

Emiten perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) berupaya untuk menekan capital expenditure yang semula ditargetkan antara Rp1,6 triliun—Rp1,7 trilun menjadi Rp1,3 triliun—Rp1,5 triliun.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 14 Juli 2019  |  14:55 WIB
AALI Upayakan Tekan Capex Rp400 Miliar
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) berupaya untuk menekan capital expenditure yang semula ditargetkan antara Rp1,6 triliun—Rp1,7 trilun menjadi Rp1,3 triliun—Rp1,5 triliun.

Pada awal tahun ini, AALI merencanakan belanja modal sebesar Rp1,6 triliun--Rp1,7 triliun dari kas internal perseseroan. Rencananya mayoritas penggunaan akan dihabiskan untuk perawatan pohon kelapa sawit yang belum menghasilkan.

Adapun dana untuk perawatan tanaman yang belum menghasilkan senilai Rp700 miliar, peningkatan kapasitas pabrik atau ekstension senilai Rp150 miliar dan sisanya untuk perawatan infrastruktur seperti jalan, rumah, jembatan dan lain-lain.

Akan tetapi, saat malam ajang penganugerahan Bisnis Indonesia Award 2019 Direktur Astra Agro, M Hadi Sugeng mengungkapkan untuk semester II ini perseroan memiliki rencana berbeda. Capex tahun ini akan berusaha ditekan oleh perseroan sekitar Rp300 miliar sampai Rp400 miliar.

“Semester dua ini kami sedang melakukan pembenahan kebun dan efisiensi kebun saja. Efisiensi yang kami maksud ialah lebih mengoptimalkan [biaya] operasional,” katanya kepada Bisnis. Menurutnya, beberapa pengeluaran yang tidak berhubungan dengan inti bisnis AALI akan diefisienkan.

Hadi menyebut efisiensi perlu dilakukan supaya kinerja perseroan lebih excellent. “Kami menjalankan yang ada korelasinya dengan produktivitas tanaman dan tenaga kerja. Kami juga memanfaatkan teknologi supaya pengambilan keputusan lebih presisi lagi,” ujarnya.

AALI, lanjutnya, akan menunda beberapa proyek yang tidak terlalu penting selama posisi harga crude palm oil (CPO) masih tertekan. Sebagai informasi, harga CPO di Bursa Malaysian Derivatives Exchange pada Jum’at di kisaran MYR1.931/ton, merosot dibandingkan Februari yang sempat menyentuh MYR2.300/ton.

Beberapa proyek, lanjutnya, akan ditunda sampai tahun depan. Misalnya beberapa proyek infrastruktur di lapangan berupa jalan, karena curah hujan tidak deras jadi capex untuk sektor kelihatanya tidak sebesar yang sudah AALI proyeksikan. Dengan begitu dana untuk merawat infrastruktur ke kebun ternasuk juga pembangunan perumahan karyawan masih bisa digeser ke tahun ke depan.

“Mungkin itu akan kami nomer duakan selama posisi harga yang tertekan. Paling banter yang keluar tahun ini Rp1,5 triliun sementara tahun lalu itu Rp1,7. Mungkin tahun ini akan kami tekan sampai Rp1,3 triliun,” katanya.

Hadi mengklaim secara fasilitas lapangan, Astra jauh lebih baik dibandingkan dengan kompetitor. Maka sudah waktunya untuk menyetarakan dengan kompetitor.

Sementara dari target capex yang sudah dialokasikan, dana yang terserap sampai Juli sekitar Rp600-Rp700 miliar.  Hadi menyebut, AALI harus mengetatkan ikat pinggang untuk bisa survive karena harga masih kurang bagus.

Selain itu, AALI juga berupaya menurunkan biaya produksi CPO yang sekarang berada di kisaran US$400/ton atau Rp6.000/kg. Emiten perkebunan itu menargetkan bisa mengurangi biaya produksi sampai Rp5.000/kg pada kuartal III/2019.

“Menekan biaya produksi itu mungkin karena masih banyak yang bisa ditekan. Rp6.000/kg itu masih tinggi, target kami kuartal III/2019 nanti jadi Rp5.000/kg. Tidak banyak yang kami pangkas. Hanya saja kalau bisa dilakukan teknologi dan mekanisasi ya kita jalankan. Supaya biaya operasi turun dan tingkatkan sinergi antara deparetemen,” katanya.

AALI, lanjutnya, menargetkan bisa memproduksi CPO sebanyak 1,8 juta ton dengan komposisi lebih dari 1 juta ton dihasilkan dari kebun sendiri sedangkan sisanya beli dari luar. Dari produksi itu, 70 persen akan diekspor sedangkan 30 persen akan dijual untuk pasar lokal.

Hadi memproyeksikan untuk semester kedua, pasar CPO akan jauh lebih baik. Pasalnya sampai dengan Juli curah hujan masih rendah. Dengan begitu, kemungkinan ledakan produksi seperti 2018 saat jumlah CPO melonjak sampai 5 juta ton tidak akan terjadi.

“Curah hujan berkurang. Biasanya habis lebaran tinggi, ini masih aman. Jadi penurunan harga akibat kelebihan produksi sepertinya tidak banyak terjadi,” katanya.

Menurut Hadi, ledakan produksi adalah salah satu penyebab goyangnya industri minyak sawit. Produsen kesulitan mencari pasar baru ditambah dengan memanasnya perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

AALI tengah menjajaki pasar baru seperti Pakisatan dan wilayah Timur Tengah. Hadi berharap aka nada kepastian pada semester kedua ini.

Selain kelebihan produksi, isu lain yang perlu diperhatikan adalah kenaikan upah minimum pekerja sebesar 10 persen. Menurutnya dengan kebijakan ini perseroan perlu kreatif dalam memaksimalkan biaya operasional di tengah kondisi sulit.

“Kenaikan UMPR 10 persen per tahun itu jadi concern industri sawit, sebab sekalipun kami bisa menghemat Rp300 miliar – Rp400 miliar tahun ini, pasti tahun depan sudah kelibas itu. Jadi capex tahun depan bisa jadi sama dengan 2017 Rp1,7 triliun lagi,” katanya.

AALI membukukan pendapatan Rp4,23 triliun pada kuartal I/2019 turun 4,79% YoY. Perinciannya, pendapatan dari segmen minyak sawit mentah dan turunannya senilai Rp3,81 triliun, inti sawit dan turunannya Rp370,66 miliar, dan pemasukan lain Rp50,54 miliar.

Secara geografis, pendapatan bersih paling banyak berasal dari Sulawesi senilai Rp2,47 triliun, selanjutnya Sumatra Rp1,98 triliun, dan Kalimantan Rp1,49 triliun. Total pendapatan Rp5,96 triliun kemudian terkena eliminasi Rp1,72 triliun, sehingga hanya mencapai Rp4,23 triliun.

Di sisi lain, AALI baru saja menyabet penghargaan Bisnis Indonesia Award 2019 untuk sektor perkebunan melampaui enam emiten lainnya yaitu PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk, PT Dharma Satya Nusantara Tbk, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, PT Sampoerna Agro Tbk, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, dan PT Tunas Baru Lampung Tbk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
astra agro lestari

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top