Konsumsi Rumah Tangga Berpotensi Melambat

Pertumbuhan konsumsi masyarakat berpotensi melambat seiring dengan pelemahan ekonomi yang membayangi Indonesia. 
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 Juni 2019  |  07:49 WIB
Konsumsi Rumah Tangga Berpotensi Melambat
Laju pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga nasional 2016/2018. Data: BPS

Bisnis.com, JAKARTA--Pertumbuhan konsumsi masyarakat berpotensi melambat seiring dengan pelemahan ekonomi yang membayangi Indonesia. 

Survei Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Ekspektasi Ekonomi (IEK) terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang, pada Mei 2019 turun sebesar 1,9 poin menjadi 142,9. 

BI mengungkapkan hal ini dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap penghasilan dan kegiatan usaha pada 6 bulan ke depan.

Kondisi ini tercermin Indeks Ekspektasi Penghasilan yang turun 2,4 poin menjadi 150,4 pada Mei 2019. Selain itu, konsumen memperkirakan adanya kenaikan harga dalam tiga bulan ke depan sejalan dengan kekhawatiran kenaikan BBM bersubsidi.

Indeks ekspektasi kegiatan usaha Mei 2019 juga menurun 1,9 poin menjadi 146,8. Penurunan terdalam terjadi untuk konsumen dengan pengeluaran Rp1-4 juya per bulan dengan rentang usia 20-30 tahun dan 41-60 tahun. Hal ini disebabkan oleh tekanan harga pada 6 bulan ke depan dimana faktor ini menjadi penghambat perkembangan kegiatan usaha di masa mendatang.

Optimisme ketersediaan lapangan pekerjaan juga menurun dalam enam bulan kedepan menjadi 131,4 dibandingkan 132,9 pada bulan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi untuk semua tingkat pendidikan.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan efek perlambatan ekonomi, efek stabilitas politik dan efek inflasi mulai meningkat sehingga konsumsi diperkirakan melambat ke depannya.

Dalam kondisi ini, Bhima melihat masyarakat kelas menengah atas akan melakukan antisipasi.

"Jadi banyak konsumen yang pilih savings dan menunda belanja," ungkap Bhima, Kamis (14/08/2019).

Selain itu, dia mengatakan masyarakat melihat ada antisipasi  pasca Pemilu harga BBM dan listrik disesuaikan subsidinya. 

Bhima berharap pemerintah dapat
memberikan insentifnya lewat pemangkasan tarif PPN barang tertentu.

"Memang seharusnya impor barang konsumsi jangan dinaikin tarifnya karena andilnya tidak signifikan ke defisit transaksi berjalan dibandingkan bahan baku," papar Bhima.

Sementara itu, ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menuturkan ekspektasi ekonomi dan penghasilan yang turun dalam enam bulan ke depan lebih disebabkan karena sudah berlalunya Lebaran dan Ramadan, bukan karena faktor perlambatan ekonomi.

Lana justru mengkhawatirkan kenaikan harga transportasi baik pesawat udara, maupun layanan ojek motor dan mobil online dapat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat.

"Ini mungkin yang akan menimbulkan potensi income yang dianggapnya tidak naik," ungkap Lana. 

Sementara itu, pemerintah mulai menyadari konsumsi masyarakat yang stagnan di kisaran 5%.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro menuturkan jika Indonesia hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga, pertumbuhannya sudah stagnan di kisaran 5%-5,2%. 

"Range ini adalah range yang sudah biasa dicapai oleh perekonomian Indonesia antara 5%-5,2%," papar Bambang.

Data, BPS menunjukkan konsumsi rumah tangga dalam tiga tahun terakhir hanya tumbuh di kisaran 4,9%-5,1%.

Ke depannya, pemerintah kian pesimistis. Nada pesimis tersebut ditunjukkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati atas sejumlah target yang telah disusun dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019.

Dia sangsi target yang disusun didalam kerangka makro dapat tercapai, termasuk pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,6%.

Dia menuturkan sejumlah indikator asumsi makro dalam APBN 2019 diproyeksikan bakal meleset dari asumsi awal. 

"Kami melihat APBN 2019 ini dari sisi asumsi makro di mana pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami tekanan, sehingga terjadi downside risk," ungkap Sri Mulyani.

Risiko penurunan yang dimaksud terkait dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup