Yuan Tertekan, Depresiasi Rupiah Bakal Berlanjut

Melihat hubungan dagang dan keuangan yang kuat antara China dan Indonesia, rupiah berpotensi tertekan lebih dalam jika yuan terus terdepresiasi.
Hadijah Alaydrus | 16 Mei 2019 12:26 WIB
Warga menunjukkan uang rupiah pecahan kecil di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (13/5/2019). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA - Melihat hubungan dagang dan keuangan yang kuat antara China dan Indonesia, rupiah berpotensi tertekan lebih dalam jika yuan terus terdepresiasi.

Kepala Ekonom PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro mengungkapkan, China adalah partner dagang terbesar Indonesia dengan pangsa ekspor migas sebesar 15 persen dan ekspor nonmigas sebesar 30 persen.

"Dengan demikian, rupiah dapat mengalami penyesuaian alami jika yuan terus melemah," kata Satria, Kamis (16/05/2019).

Terbukti, lanjut Satria, pelemahan rupiah sebesar 1,37 persen (month to date/mtd) lebih didorong oleh perkembangan yuan. Sementara itu, dolar indeks umumnya stabil sepanjang Mei ini.

Dengan pelemahan rupiah terhadap yuan, real effective exchange rate (REER) ikut melebar.

Bagi Indonesia, pemburukan tensi dagang antara AS dan China dapat menghantam performa ekspor nonmigas ke kedua negara tersebut.

Seperti diketahui, China telah melancarkan serangan melepas pelan-pelan kepemilikan surat utang AS sebagai bentuk retaliasi dari penerapan tarif yang diberlakukan Trump.

Kepala Ekonom PT Trimegah Securities Fakhrul Fulvian mengungkapkan, serangan China tersebut tidak akan mendongkrak imbal hasil dari surat utang AS atau US treasury bills.

Ketika China menjual aset dolarnya tersebut, Fakhrul yakin akan banyak negara yang menyerap surat utang AS tersebut, seperti Jerman, Jepang, Korea Selatan dan lain-lain.

"Ini artinya negara lain akan beli dikondisi risk-off seperti saat ini," ungkap Fakhrul.

Terbukti, imbal hasil surat utang AS turun ke level 2,35 persen pagi ini setelah China menjual asetnya.

Salah satu penyebab rendahnya imbal hasil surat utang AS adalah savings glut atau kondisi tabungan berlebih di tataran global.

"Seluruh dunia saat ini masih berada dalam kondisi kelebihan uang dimana-mana dan ujungnya berakhir di simpanan dolar dan produknya seperti surat utang AS," ujar Fakhrul.

Menurutnya, kondisi global berada di fase moderasi ekonomi yang teratur dan kondisi kebanyakan tabungan ini akan menjaga imbal hasil surat utang AS tetap rendah. Sekalipun, China terus membuang surat utang AS.

Seperti diketahui, China memiliki 25 persen total global savings sehingga tidak heran tabungan surat utang AS yang dimilikinya cukup besar.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Rupiah, yuan, perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup