Sektor IKFT Diyakini Tumbuh 4,3%, Tambah Gairah Usai Lebaran

Kementerian Perindustrian meyakini target pertumbuhan sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) sebesar 4,3% pada tahun ini bisa tercapai. Aktivitas dan serapan industri diperkirakan kembali bergairah pada paruh kedua atau seusai Lebaran.
Annisa Sulistyo Rini | 10 Mei 2019 23:00 WIB
Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka, Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono bersama dengan Direktur Pelumas PT Shell Indondesia Dian Andryasuri meninjau fasilitas baru "Customer Experience Center" di pabrik Pelumas Shell (Lubricants Oil Blending Plan/LOBP) di Marunda, Bekasi, Rabu (15/8/2018). - Bisnis.com/Thomas Mola

Bisnis.com, JAKARTA--Kementerian Perindustrian meyakini target pertumbuhan sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) sebesar 4,3% pada tahun ini bisa tercapai. Aktivitas dan serapan industri diperkirakan kembali bergairah pada paruh kedua atau seusai Lebaran.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Direktur Jenderal IKFT Kemenperin, mengatakan bahwa sepanjang kuartal I/2019, sektor ini tumbuh sebesar 3,6% secara tahunan. Beberapa sektor ada yang tumbuh positif, ada pula yang mengalami kontraksi.

"Kalau kuartal I kan siklusnya beberapa sektor ada yang minus ada yang bagus. Yang naik misalnya industri pakaian jadi karena faktor pemilu dan Lebaran, sedangkan yang minus misalnya semen," ujarnya di Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Sigit menyebutkan industri semen mengalami penurunan pada kuartal I/2019 karena dipengaruhi oleh faktor cuaca, di mana curah hujan tinggi, serta banyak proyek yang libur pada bulan puasa dan Lebaran. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menunjukkan serapan semen dalam negeri selama kuartal I/2019 turun 0,2% secara tahunan atau sebesar 15,7 juta ton, sedangkan ekspor masih mengalami kenaikan sebesar 97% y-o-y.

Selain semen, industri tekstil disebutkan Sigit juga terkontraksi sebesar -1% secara tahunan. Menurutnya, penurunan di sektor ini disebabkan oleh barang impor yang banyak masuk, terutama menjelang Lebaran.

Sektor farmasi dan kosmetik juga disebutkan Sigit mengalami pertumbuhan yang cukup baik pada kuartal I/2019. Industri farmasi, lanjutnya, tumbuh di kisaran dua digit. Begitu pula dengan sektor kosmetik yang pertahunnya tumbuh 17% secara rata-rata.

“Kalau sektor kimia bagus, karena didorong ekspor yang lumayan,” katanya.

Sigit menyatakan pihaknya meyakini target pertumbuhan sebesar 4,3% sepanjang tahun ini bisa tercapai, didorong oleh permintaan yang lebih baik pada kuartal-kuartal selanjutnya. “Kami yakin setelah Juli bagus, untuk semen setelah Lebaran permintaan bisa naik,” jelas Sigit.

Pelaku industri semen berharap penurunan serapan semen pada kuartal I/2019 bisa terkejar mulai Mei tahun ini. Ketua ASI Widodo Santoso menyampaikan pada periode Januari—Maret 2019 pasar utama semen, yaitu Jawa dan Sumatra mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,3% dan 4,7% secara tahunan.

Penurunan ini dipengaruhi oleh cuaca, yaitu hujan yang relatif deras, anggaran pembangunan yang belum turun, serta faktor menjelang pemilihan umum. "Diharapkan konsumsi di Jawa dan Sumatra, sebagai pasar terbesar, pada Mei mendatang bisa mengejar ketertinggalan dengan mulai cairnya anggaran," ujar Widodo.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kimia farma, industri kimia

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup