Lanjutan Program Kerjasama dengan Pemerintah Australia, Manajemen Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Gelar Pelatihan Mitigating The Risk of Trusted Insider

Potensi risiko ancaman terhadap keamanan di bandar udara dapat datang dari berbagai pihak.
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 26 April 2019  |  19:00 WIB

MANGUPURA – Potensi risiko ancaman terhadap keamanan di bandar udara dapat datang dari berbagai pihak. Tidak hanya dari ancaman yang berasal dari luar saja, personel bandar dapat berpotensi pula menjadi salah satu sumber ancaman keamanan yang dapat berpotensi mengganggu kelancaran operasional bandar udara dan operasional penerbangan. Untuk itu lah, manajemen bandar udara perlu bersikap waspada, dan harus siap akan adanya segala bentuk risiko ancaman.

PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali yang merupakan salah satu bandar udara paling sibuk dan paling penting di Indonesia, dengan jumlah penumpang pada tahun lalu sebanyak 23,7 juta penumpang, serta dengan pertumbuhan penumpang sebesar 8,5%, tidak henti-hentinya untuk selalu meningkatkan kompetensi dari para personel, termasuk di dalamnya personel Aviation Security yang bertanggung jawab terhadap keamanan bandar udara dan keamanan penerbangan.

Sebagai bentuk peningkatan kompetensi, pada Rabu (24/04) kemarin, manajemen bandar udara mengadakan pelatihan bertajuk Mitigating The Risk of Trusted Insider.

Pelatihan ini merupakan wujud implementasi kerja sama antara PT Angkasa Pura I (Persero) dengan Pemerintah Australia dan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kementerian Perhubungan.

“Pada masa sekarang, pergeseran ancaman keamanan sudah mulai berubah. Pemanfaatan orang dalam sebagai pelaku tindakan melawan hukum sudah mulai menjadi _trend_ baru,” ujar General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali, Haruman Sulaksono saat membuka acara.

“Dengan itu, peningkatan keamanan terhadap petugas bandar udara sangat menjadi perhatian khusus selain pemeriksaan kepada penumpang,” lanjut Haruman.

Tujuan utama diselenggarakannya kegiatan pelatihan ini adalah untuk mencegah terjadinya ancaman yang dilakukan oleh personel yang bekerja di dalam bandar udara. Dalam pelatihan, personel Aviation Security diberikan pelatihan mengenai bagaimana mengidentifikasi pergerakan karyawan yang bekerja di bandar udara jika karyawan tersebut dicurigai akan melakukan tindakan melawan hukum.

Profiling merupakan salah satu kemampuan yang wajib dimiliki oleh setiap personel Aviation Security. Dengan kemampuan ini, seorang personel keamanan bandar udara dapat mendeteksi gerak gerik seseorang, baik itu calon penumpang pesawat udara, pengguna jasa bandar udara, maupun karyawan yang bekerja di dalam bandar udara. Karyawan yang bekerja di bandar udara dapat dikatakan memiliki potensi yang lebih tinggi daripada pihak eksternal, karena faktor pengenalan medan yang lebih tinggi. Dengan peningkatan kompetensi profiling inilah, personel Aviation Security akan semakin dapat menjalankan tugasnya dalam pengawasan dan pemeriksaan terhadap seluruh karyawan yang bekerja di dalam bandar udara.

Selain itu, pelatihan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan keamanan terhadap orang perseorangan yang akan memasuki daerah keamanan di bandar udara tanpa terkecuali.

Pada bulan Maret lalu, juga merupakan implementasi kerja sama dengan Pemerintah Australia, dilaksanakan pelatihan Explosive Trace Detection yang ditujukan untuk dapat mengidentifikasi dan menangkal ancaman keamanan bandar udara dan penerbangan dalam bentuk bahan peledak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
angkasa pura i

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top