LAPORAN DARI BEIJING : Wapres Kalla, Belt and Road Harus Saling Menguntungkan

Pemerintah Indonesia dan pemerintah China berjanji akan meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi, termasuk perdagangan dan investasi. Target utamanya, yaitu mengurangi defisit neraca perdagangan antara kedua negara.
Feni Freycinetia Fitriani | 26 April 2019 05:53 WIB
Delegasi peserta melintas di dekat logo Belt and Road Forum, di Beijing, China, Kamis (25/4/2019). - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan pemerintah China berjanji akan meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi, termasuk perdagangan dan investasi. Target utamanya, yaitu mengurangi defisit neraca perdagangan antara kedua negara.

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan China sudah menyetujui untuk meningkatkan impor crude palm oil (CPO) sekaligus membuka pintu masuknya impor buah-buahan tropis asal Indonesia.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga mendukung investasi dari Negeri Tirai Bambu yang dipayungi program jalur sutra abad 21 atau Belt and Road.

Hal itu disampaikan JK ketika bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping di The Great Hall of People di Beijing. Meski demikian, JK menegaskan Indonesia tetap memegang kendali dan tidak bisa didikte oleh pihak luar.

"Indonesia sangat mendukung pertemuan Belt and Road Forum, tetapi ownership-nya tetap Indonesia. Tidak semuanya Belt and Road, tergantung kerja sama. [Hubungan dagang] harus menguntungkan kedua belah pihak. Kita setuju kurangi defisit, mereka setuju impor CPO ," katanya saat konferensi pers di Hotel Kempinski Beijing, Kamis (25/4/2019).

Menurutnya, masuknya investasi asal Cina melalui program Sabuk dan Jalur (Belt and Road) akan meningkatkan investasi China ke Indonesia. Pasalnya, proyek yang masuk berjenis business to business (B to B), bukan governor to governor (G to G). Apalagi, saat ini China dan Hongkong sudah menggeser posisi Singapura sebagai penanam modal asing tertinggi di Indonesia saat ini.

Dalam pertemuan Global Maritime Fulcrum Belt And Road Initiatives (GMF –BRI), Cina sudah menyiapkan rancangan Framework Agreement untuk bekerja sama di Kuala Tanjung, Sumatra Utara (Sumut) sebagai proyek tahap pertama. Selanjutnya, ada beberapa tahap proyek kerja sama lain yang telah disepakati seperti Kawasan Industri Sei Mangkei dan kerja sama strategis pada Bandara Internasional Kualanamu untuk tahap kedua.

Kemudian, pengembangan energi bersih di kawasan Sungai Kayan, Kalimantan Utara (Kaltara), pengembangan kawasan ekonomi eksklusif di Bitung, Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Kura-Kura Island di Bali.

"Ada sekitar 30 proyek, tetapi kita menekankan inisiatif bersama bukan hanya dari Cina. Kita menghindari seakan-akan Cina yang menentukan. Indonesia yang menentukan," ungkapnya.

Setelah bertemu dengan Xi Jinping, Wapres RI dan beberapa menteri Kabinet Kerja melakukan pertemuan dengan pengusaha-pengusaha asal Cina. Pemerintah juga berjanji memberikan insentif bagi pebisnis China yang ingin membangun proyek di Indonesia.

"Dalam pertemuan, kita berikan katakanlah fasilitas tax holiday apabila dilakukan dalam jumlah besar dan di luar Jawa," tuturnya.

Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pihaknya memberikan lima syarat bagi pengusaha Cina yang ingin berinvestasi di Indonesia. Pertama, investor Cina harus menggunakan tenaga kerja asal Indonesia. Kedua, perusahaan yang berinvetasi harus memiliki nilai tambah (added value) sehingga tidak diperbolehkan hanya sekadar menggali sumber daya alam lalu mengekspor ke negara lain.

Ketiga, perusahaan asing wajib melakukan transfer teknologi kepada pekerja lokal. Keempat, pemerintah mengedepankan konsep B to B. Terakhir, jenis usaha yang dibangun harus ramah lingkungan.

"Soal tenaga kerja dan transfer teknologi di Morowali sudah sangat bagus. Sekarang ada Politeknik khusus. Tengana kerja China di Morowali sekarang paling hanya 3.000 orang dari total 80.000 orang," imbuhnya.

Presiden Cina Xi Jinping menuturkan Indonesia berada di posisi yang sangat penting dari jalur sutra kuno. Indonesia juga memegang peranan sangat penting untuk ikut pembangunan bersama the Belt and Road, jalan sutra maritim abad ke-21.

"Waktu saya berkunjung di Indonesia, saya dengan suka cita dengan pembangunan kedua negara bersama Belt and Road. [Ini merupakan] kesempatan untuk mencapai kemajuan baru dari hubungan bilateral dan hasil nyata pembangunan di berbagai bidang. [Pembangunan] ini merupakan benar-benar untuk masyarakat kedua negara," ungkapnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jusuf kalla, one belt one road

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup