Peternak Tolak Perubahan Harga Acuan Jagung Berubah

Kalangan peternak ayam petelur atau layer menolak perubahan harga acuan jagung. Pasalnya itu akan memengaruhi biaya produksi di kandang.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 18 April 2019  |  16:48 WIB
Peternak Tolak Perubahan Harga Acuan Jagung Berubah
Pekerja mengambil telur di kandang ayam di Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (25/9). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan peternak ayam petelur atau layer menolak perubahan harga acuan jagung. Pasalnya itu akan memengaruhi biaya produksi di kandang.

Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (PLN), Musbar Mesdi menegaskan penolakan atas usulan perubahan harga acuan jagung yang tengah dikaji oleh pemerintah. Menurutnya hal yang paling mendesak adalah produktivitas jagung per hektare yang disinyalir lebih rendah daripada klaim pemerintah.

"Kalau mau ya produktivitas yang dinaikkan. [Produktivitas] kembali pada jalur yaitu 5 ton pipil kering per hektare. Kalau begitu berarti [produksi jagung] per hektare 10 ton tongkol basah," katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Dengan begitu, lanjutnya, kesejahteraan petani bisa meningkat tapi tidak menyulitkan peternak layer membeli pakan. Sebagai catatan, pakan ayam layer 100 persen menggunakan jagung pipilan kering tanpa tambahan komposisi lain.

Lebih-lebih, Misbar menilai benih jagung yang diberikan pemerintah kualitasnya rendah. Alhasil, produksi yang dihasilkan pun rendah yakni 3-4 ton tongkol basah per hektare yang ketika dikonversi menjadi pipilan kering berkurang 50 persen volumenya.

"Berikan bibit jagung yang bagus seperti 2017 kualitas premium seharga Rp65.000/kg-Rp70.000/kg. Produksi per hektare bisa 8 ton pipil bisa kok. Kalau [berniat] konsisten menjaga tingkat inflasi pangan jangan salah satu pihak dikorbankan," katanya.

Menurutnya, dengan harga acuan lama yakni Rp3.150/kg untuk kadar air (KA) 15 persen pun dijual petani seharga Rp4.000/kg, sedangkan yang sampai ke peternak maksimal yaitu Rp6.000/kg. Petani, lanjutnya, mendapatkan keistimewaan agar harga stabil tidak turun drastis.

Sementara peternak, lanjutnya, tidak mendapatkan dukungan tersebut dari pemerintah. Pasalnya ketika harga jagung tinggi, pemerintah tidak melakukan stabilisasi. Lain hal ketika harga telur yang tinggi akan segera dilakukan operasi pasar.

"Mereka tidak ada tindakan [untuk harga jagung tinggi] karena itu petani. Kami cuma bisa afkir ayam. Lalu harga telur naik karena kita tidak bisa kasih ayam pakan. Langsung didatangi satgas pangan dan diperiksa," ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Leopold Halim menambahkan tidak bisa berbuat banyak seandainya harga acuan diubah. Leopold akan mengikuti ketetapan pemerintah.

"Iya kita ikut saja. Mau apa lagi? Kita tinggal manut," katanya. Leopold mengatakan kondisi sekarang harga jagung di kisaran Rp4.000/kg dari Perum Bulog dan Rp4.300/kg dari pengepul atau petani sedangkan harga telur Rp20.500/kg. Jadi masih sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan peternak.

Sebelumnya, Pemerintah tengah mengkaji ulang harga acuan jagung yang tertuang pada Permendag nomor 96 tahun 2018 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen.

Wacana pengkajian ulang mencuat pertama kali pada Rapat Koordinasi Perunggasan di Kementerian Pertanian pada 2 April. Adapun rapat tersebut dipimpin oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita dan diikuti oleh asosiasi pakan, dewan jagung dan stakeholders.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternak ayam

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top