Produk Perikanan Dominasi Muatan Balik Kapal Tol Laut Pelni

Muatan balik kapal tol laut Pelni mulai tumbuh, terutama diisi oleh produk perikanan. BUMN pelayaran itu menyebut muatan balik sudah 20% dari kapasitas angkut pada awal tahun.
Sri Mas Sari | 17 April 2019 20:07 WIB
Kapal Umsini milik PT Pelni bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (7/11/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Muatan balik kapal tol laut Pelni mulai tumbuh, terutama diisi oleh produk perikanan. BUMN pelayaran itu menyebut muatan balik sudah 20% dari kapasitas angkut pada awal tahun.

Direktur Angkutan Barang dan Tol Laut PT Pelni (Persero) Harry Boediarto menyebutkan permintaan reefer container untuk mengangkut ikan mulai muncul dari Morotai (Maluku Utara), Tahuna (Sulawesi Utara), dan Natuna (Kepulauan Riau).

Sebagai contoh, muatan balik ikan sudah ada tujuh kontainer dari Tidore (Maluku Utara), lima kontainer dari Morotai, dan enam reefer dari Natuna.

"Jadi, posisi [muatan balik] 2018 sampai akhir tahun itu mulai naik dari 17% ke 18%. Sekarang 20%," katanya, Rabu (17/4/2019).

Menurut Harry, ada andil penurunan tarif muatan balik terhadap peningkatan volume kargo. Kementerian Perhubungan menurunkan tarif muatan balik kapal tol laut hingga 50% demi memicu return cargo dari wilayah Indonesia timur yang selama ini masih rendah.

Selama ini, tarif angkutan barang menggunakan kapal tol laut sudah lebih murah separuh dari tarif komersial. Sebagai contoh, biaya angkut barang dari Surabaya ke Merauke menggunakan kapal tol laut hanya Rp6 juta boks kontainer 20 kaki, dibandingkan dengan menggunakan kapal komersial Rp10 juta - Rp11 juta per boks.

Demikian pula dengan biaya angkut ke Surabaya ke Manokwari yang hanya Rp5,3 juta per boks, dibandingkan dengan menggunakan kapal komersial Rp11 juta-Rp13 juta per boks.

Dengan penurunan tarif tol laut, khusus untuk muatan balik, maka tarif itu menjadi seperempat biaya pengangkutan menggunakan kapal komersial.

Selain andil penurunan tarif, peningkatan muatan balik juga karena masyarakat di timur sudah mendapatkan informasi yang cukup mengenai program tol laut.

"Maka itu, kalau orang dagang itu harus terus, kapalnya enggak boleh berubah-ubah [rute]. Harus tetap. Sampai daerah itu maju, baru ditinggal [berubah menjadi rute komersial]," ujar Harry.

Untuk menyiasati ketersediaan plug yang belum memadai di sejumlah pelabuhan tujuan, Pelni akan menggandeng perusahaan lain untuk menyediakan listrik tenaga surya untuk menghidupkan reefer container. "Kalau di kapal butuh plug, kami pasang genset untuk tambahannya," jelas Harry.

Pelni akan mengupayakan muatan balik terus bertambah dengan bekerja sama dengan BUMD dan Bumdes. BUMD dan Bumdes nantinya tidak hanya menjadi tempat membeli barang pokok dan penting dari Jawa, tetapi juga tempat menjual produk masyarakat setempat.

"Dengan begitu, kami membeli tidak perlu lewat pihak ketiga. Dengan lewat BUMDes, harganya bagus, dijual ke Surabaya. BUMD bersama bumdes jadi pusat jual beli sehingga BUMDes tidak cuma mengurusi minyak, gas, yang gede-gede saja," ujar Harry.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelni, Tol Laut

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup