Freeport Berharap Segera Mendapat Kepastian Rekomendasi Ekspor

PT Freeport Indonesia (PTFI) berharap rekomendasi surat persetujuan ekspor (SPE) konsentrat tembaga segera terbit sebelum gudang penyimpanan penuh.
Lucky Leonard
Lucky Leonard - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  18:14 WIB
Freeport Berharap Segera Mendapat Kepastian Rekomendasi Ekspor
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) berharap rekomendasi surat persetujuan ekspor (SPE) konsentrat tembaga segera terbit sebelum gudang penyimpanan penuh.

Adapun izin ekspor konsentrat tembaga PTFI telah habis pada 15 Februari 2019. Hingga saat ini, Kementerian ESDM masih melakukan evaluasi permohonan perpanjangan rekomendasi SPE PTFI.

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan hingga saat ini gudang penyimpanan konsentrat tembaga di Amamapare, Mimika, Papua masih cukup. Ada tiga gudang dengan kapasitas masing-masing 40.000 ton konsentrat tembaga.

Meskipun begitu, dia berharap rekomendasi SPE bisa segera terbit. Pasalnya, jika ekspor tertunda cukup lama, maka gudang tidak akan bisa menampung lagi konsentrat tembaga dari parik pengolahan.

Sambil menunggu rekomendasi SPE terbit, kegiatan operasi produksi masih berjalan normal. Pasokan konsentrat tembaga untuk PT Smelting Gresik pun tidak terganggu.

"Selama gudang masih cukup, kita masih bisa mengapalkan ke Gresik, ya sekarang masih jalan. Nanti kalau gudang sudah penuh, itu baru ada masalah," ujarnya, Selasa (26/2/2019).

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saifulhak menyatakan kuota ekspor PTFI kali ini diperkirakan bakal turun dari kuota pada periode sebelumnya yang mencapai 1,25 juta ton konsentrat tembaga per tahun.

Pasalnya, produksi PTFI akan anjlok mulai tahun ini karena tengah dalam masa transisi dari penambangan terbuka ke penambangan bawah tanah. Pasokan untuk dalam negeri diperkirakan tetap, sehingga akan memangkas porsi ekspor.

Pada tahun ini, produksi konsentrat tembaga Freeport Indonesia diperkirakan hanya sekitar 1,2 juta ton saja, jauh dari realisasi tahun lalu sekitar 2,1 juta ton. Sebanyak 1 juta ton akan dipasok ke PT Smelting di Gresik, sehingga tersisa sekitar 200.000 ton untuk diekspor.

"Yang diekspor lebih sedikit dari yang lalu. Lebih banyak untuk kebutuhan PT Smelting," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Freeport

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top