PLN Diharap Siapkan Sistem Peralihan Konsumsi Energi Migas ke Listrik

PT PLN (persero) harus mempersiapkan jaringan sistem untuk mendukung peralihan pola konsumsi energi masyarakat dari bahan migas ke energi listrik.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  10:23 WIB
PLN Diharap Siapkan Sistem Peralihan Konsumsi Energi Migas ke Listrik
Teknisi memasang jaringan kelistrikan baru di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (21/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA—PT PLN  (persero) harus mempersiapkan jaringan sistem untuk mendukung peralihan pola konsumsi energi masyarakat dari bahan migas ke energi listrik.

Iwa Garniwa, Ketua Electrical Power and Energy Studies (EPES) UI, mengatakan PLN harus mengevaluasi struktur jaringannya, terutama saat terjadi peningkatan beban puncak dalam mempersiapkan konversi pola konsumsi energi masyarakat dari migas ke listrik.

“Seandainya kondisi eksisting rumah di satu komplek rata-rata 1.300 watt. Maka kalau beralih ke kompor listrik yang 1000 watt, bisa jadi ketersediaan listrik di rumahnya berkurang, apalagi saat terjadi beban puncak,”katanya, Selasa (26/2/2019).

Menurutnya, jika hal tersebut sudah dilakukan, maka PLN dan pemerintah akan lebih mudah mensosialisasikan kepada masyarakat, terkait penggunaan energi listrik yang aman dan harganya terjangkau.

Selain itu, lanjut Iwa, teknologi listrik harus diikuti kebijakan yang mendukung. Misalnya pemerintah harus membuat kebijakan, harga kompor listrik murah, dan tersedia di mana-mana.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, mengemukakan, penggunaan sejumlah perlengkapan berbasis listrik mulai dari kompor listrik, mobil dan motor listrik akan menjadikan konsumen memiliki pilihan dalam komoditas energi.

“Artinya apabila tersedia semakin banyak pilihan energi yang disediakan oleh negara, maka akan semakin efisien. Selain itu, dengan dengan adanya mobil listrik atau motor listrik, dari segi polusi, bisa menekan pengeluaran dari sisi bahan bakar,”ungkapnya.

Namun menurutnya, bagi masyarakat konsumen, mengubah pola hidup menjadi lebih banyak menggunakan listrik dibanding energi lainnya seperti minyak dan gas (migas yang berasal dari fosil), akan bergantung pada harga yang ditawarkan.

“Kalau harga jual tenaga listrik yang ditawarkan lebih murah, bagi masyarakat bisa saja menjadi alternatif pilihan. Tetapi sebaliknya kalau penawaran harganya mahal, akan sulit bagi masyarakat beralih pada listrik,”jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Essential Sevice Reform, Fabby Tumiwa mengatakan dalam waktu dekat, konsumsi listrik untuk sektor rumah tangga memang bisa terdongkrak dengan keseriusan pemerintah dalam menggenjot penggunaan kompor listrik.

Namun tantangannya, saat ini, sebut dia adalah harga kompor listrik yang masih mahal dan konsumsi daya yang cukup tinggi. Masyarakat membutuhkan kenaikan daya minimal hingga 4.400 VA untuk bisa mengoperasikan kompor induksi, sehingga belum bisa menciptakan banyak populasi.

 

Tak hanya itu, supaya bisa mendorong penggunaan kompor induksi, maka pemerintah harus mengetatkan peredaran LPG 3kg. Sebab masih banyak pelanggan rumah tangga PLN 1.300 VA yang membeli LPG 3kg, yang tentunya harganya jauh lebih murah ketimbang listrik.

“Jadi kalau ada kompor listrik pertumbuhannya bisa diatas 5%. Kalau jumlahnya besar.  Di luar itu, Keberhasilan PLN menumbuhkan permintaan tergantung upaya pemerintah mengendalikan LPG 3kg,"tekannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
energi, listrik

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup