Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kebijakan Moneter The Fed Wait-and-See

Bank Sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 2,25%-2,5%.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 31 Januari 2019  |  18:50 WIB
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 2,25%-2,5%.

Gubernur The Fed Jerome Powell menyampaikan, usai pertemuan FOMC, bahwa bank sentral menghapus kemungkinan kenaikan bunga acuan lebih tinggi dan akan lebih bersabar sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
 
Sementara itu The Fed tidak membuat perubahan pada rencana penarikan obligasi treasury dan sekuritas berbasis mortgage dari neraca yang jumlahnya mencapai US$4 triliun, dari US$4,5 triliun pada 2014.
 
The Fed memberikan sinyal bahwa agenda tiga tahun pengetatan kebijakan moneter mungkin akan berakhir di tengah prospek ekonomi yang tiba-tiba melesu akibat guncangan ekonomi global, hambatan perdagangan serta negosiasi anggaran pemerintah yang masih berlanjut.
 
Powell mengatakan faktor pendukung kenaikan bunga acuan telah berangsur melemah dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya kondisi pertumbuhan inflasi dan stabilitas keuangan yang dianggap berisiko masih dapat terkendali, termasuk faktor internal yang disebabkan oleh shutdown yang menyebabkan perkiraan ekonomi AS sedikit buram.
 
"Kita saat ini tengah menghadapi gambaran ekonomi yang sedikit kontradiktif, meskipun pada umumnya ekonomi AS kuat, serta semakin banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi perekonomian ke depan. Kebijakan manajemen risiko kami menyarankan untuk bersabar sambil terus mengamati kejelasan pasar," ujar Powell usai pada konferensi pers, seperti dikutip Reuters, Rabu (30/1).
 
Dia yakin pertumbuhan ekonomi AS akan terus berlanjut, namun Powell mengungkapkan The Fed tidak seyakin pada pertemuan FOMC bulan lalu dimana bank sentral mengatakan ekonomi akan tumbuh lebih cepat dari harapan karena telah mengalami penurunan yang cukup tajam
 
Pernyataan The Fed terkait kenaikan bunga acuan serta rencanan penarikan portofolio aset pada neraca menjadikan pertemuan FOMC pekan ini, menjadi tanda akhir anti-klimaks dari perjuangan bank sentral selama bertahun-tahun untuk menormalisasikan kebijakan moneter pasca krisis keuangan dan resesi pada 2007 - 2009.
 
Fed Fund Rate saat ini berada pada level 2,25%-2,5% atau berada jauh di bawah rata-rata historis, jika tidak naik lebih tinggi, maka The Fed memiliki sedikit ruang untuk menghadapi pelemahan ekonomi di masa depan hanya dengan mengandalkan pemangkasan bunga.
 
Kebijakan ini juga dapat menimbulkan pertanyaan apakah sikap The Fed yang berputar menjadi lebih dovish terhadap pengetatan moneter ini merupakan respon terhadap tekanan dari pasar keuangan yang kurang stabil atau kritik dari Presiden AS Donald Trump.
 
Powell memanfaatkan sistem baru dimana dirinya akan menyampaikan hasil pertemuan FOMC pada konferensi pers untuk memaparkan serangkaian perubahan sensitif pada kebijakan moneter dan menekankan bahwa The Fed bereaksi terhadap data ekonomi, bukan tekanan dari pihak manapun.
 
Dia menyebutkan terminologi 'wait-and-see' yang saat ini diberlakukan oleh The Fed tidak serta merta berarti kenaikan suku bunga akan berhenti.
 
Powell menjelaskan bahwa saat ini bank sentral sedang tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga setelah kenaikan berturut-turut hampir pada setiap triwulan selama dua tahun terakhir. Jika tidak terjadi rebound yang mengancam inflasi atau kondisi finansial yang berisiko, maka jeda kenaikan suku bunga akan berlangsung lebih lama.
 
Bersamaan dengan pengumuman rencana normalisasi nerca The Fed, para investor kembali memberikan kritik kepada bank sentral yang menjadi sumber gejolak pasar setelah secara reflektif memperketat kebijakan moneter bahkan ketika risiko ekonomi meningkat.
 
"[Kebijakan The Fed] ini menandai perubahan 180 derajat dari sinyal mereka beberapa bulan yang lalu," kata Mohamed El-Erian, kepala penasihat ekonomi di Allianz di Pantai Newport, California.
 
Sesaat setelah The Fed memberikan pernyataan, saham AS meraup keuntungan dengan indeks S&P 500 menutup perdagangan 1,5% lebih tinggi. Sementara dolar dan imbal hasil obligasi jangka pendek melemah karena investor telah lebih dulu mengukur kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan yang lebih rendah dalam waktu dekat. 
 
The Fed menaikkan suku bunga empat kali tahun lalu termasuk pada bulan Desember dan pada saat yang sama mengisyaratkan kenaikan suku bunga sebanyak dua kali tahun ini.
 
Meski demikian prospek ekonomi terlihat mengalami perlambatan akibat dari volatilitas baru-baru ini di pasar keuangan dan tanda-tanda bahwa pertumbuhan melambat di luar negeri, termasuk di China dan zona euro.
 
Kekhawatiran lain juga muncul dari ketegangan perdagangan global dan dampak shutdown selama 35 hari akibat perselisihan anggaran yang dapat mengganggu belanja konsumen. 
 
Komite Penetapan Suku Bunga The Fed menyatakan dalam pernyataan kebijakan, mengingat perkembangan ekonomi dan keuangan global serta tekanan inflasi yang diredam, komite akan bersabar dalam menentukan kenaikan suku bunga di masa depan.
 
Dalam pernyataan yang sama, hasil pertemuan FOMC tidak memberikan perubahan rencana penarikan portofolio aset pada neraca bank sentral sebesar US$50 miliar setiap bulan. Beberapa trader mendesak The Fed untuk memperlambat atau menghentikan penarikan aset dari pasar obligasi setidaknya untuk saat ini.
 
Di sisi lain, bank sentral mengatakan telah memutuskan untuk terus mengelola kebijakan dengan sistem cadangan yang "cukup" pada neraca. Hal ini memperkuat gagasan bahwa jadwal penarikan aset akan berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
 
"Secara keseluruhan, kebijakan ini menandakan ke depannya The Fed tidak akan menggunakan autopilot dalam penarikan aset," kata Justin Lederer, analis Treasury di Cantor Fitzgerald di New York.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed
Editor : Gita Arwana Cakti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top