Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wapres Jusuf Kalla Beri Alasan Mengapa Pemerintah Genjot Infrastruktur

Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan alasan pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur.
Pemandangan ruas jalan tol Trans Jawa di sekitar Jembatan Kalikuto, Kendal, Jawa Tengah, Kamis (20/12/2018)./Bisnis-Nurul Hidayat
Pemandangan ruas jalan tol Trans Jawa di sekitar Jembatan Kalikuto, Kendal, Jawa Tengah, Kamis (20/12/2018)./Bisnis-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan alasan pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, untuk maju suatu negara tidak pernah berhenti membangun infrastruktur. Dia mencontohkan, Amerika Serikat dan China yang terus membangun infrastruktur kendati telah memiliki infrastruktur yang baik.

“Begitu krisis, solusinya membangun infrastruktur lagi agar terjadi multiplier effect. Amerika juga begitu. Begitu dia melemah ekonominya maka yang dibangun adalah infrastruktur, China bangun kota baru malah,” tuturnya dalam dalam acara Indonesia Development and Bussiness Summit, Selasa (22/1/2019).

Pembangunan di sektor infrastruktur menurutnya harus menyambung dan menjadi langkah yang panjang. Di sisi lain, dia menekankan infrastruktur juga harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Seperti di daerah-daerah tertentu pembangunan jalan tol terus dipacu khususnya di Jawa. Dia menjelaskan bahwa tanpa jalan tol di Jawa, maka logistik akan mengalami masalah atau terjadi kelambatan.

Dia pun menyebut, saat ini Indonesia menjadi salah satu negara di Asia yang terlambat dalam pembangunan infrastruktur.

“Infrastruktur tentu memperbaiki pergerakan orang, memperbaiki kegiatan ekonomi. Semua negara juga memperbaiki pembangunan infrastrukturnya. Kita di antara negara-negara Asia ini termasuk agak terlambat,” katanya.

Kendati pemerintah memacu pembangunan infrastruktur, Wapres Kalla mengatakan persentase anggarannya saat ini terus mengecil. Dia mencatat pada 1980’an anggaran pembangunan mencapai 55% dari APBN.

Adapun saat ini hanya sekitar 20%. Dia menggasirbawahi bahwa sektor infrastruktur dapat berkembang apabila dana pemerintah tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper