TEKANAN BISNIS RITEL: Curhatan dari Gerai-Gerai Glodok

 Jarum jam menunjukkan pukul 09:00 WIB, dan eskalator mulai dinyalakan di Lindeteves Trade Center (LTC) Glodok. Aktivitas perniagaan di pusat grosir yang beroperasi sejak 2006 itu pun dimulai.
Yanita Petriella | 30 Oktober 2018 14:36 WIB
Pedagang menata barang elektronik yang dijual di pusat elektronik Glodok, Jakarta, Jumat (7/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Jarum jam menunjukkan pukul 09:00 WIB, dan eskalator mulai dinyalakan di Lindeteves Trade Center (LTC) Glodok. Aktivitas perniagaan di pusat grosir yang beroperasi sejak 2006 itu pun dimulai.

Para pemilik toko telah membuka rolling door di masing-masing gerainya dan bersiap-siap menjual barang kulakannya.

Suasana khas hiruk pikuk kegiatan jual beli barang sudah mewarnai bilangan Glodok, Jakarta Barat sejak berdekade-dekade lalu. 

Kawasan Glodok dan sekitarnya termasyur sebagai areal Pecinan (Chinatown) terbesar di Batavia sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Di sana pula, sentra perdagangan barang di Ibu Kota bertahan selama ratusan tahun.

Selaras dengan perkembangan zaman, Glodok pun menjadi salah satu pemicu  denyut nadi perekonomian DKI Jakarta.

Bahkan, selama berabad-abad, keberadaannya bagaikan magnet yang terus menyedot para imigran ekonomi untuk mengadu nasib sebagai pedagang.

Pada akhirnya, Glodok bisa dikatakan sebagai salah satu kawasan ikonik di  Indonesia yang menjadi pusat penjualan barang-barang perkakas dan teknik seperti mur-baut, sekrup, pengait, tali baja, rantai, pemotong keramik, gergaji listrik, genset, dan lain-lainnya.

Produk-produk tersebut merupakan jenis barang yang paling banyak dicari di Glodok untuk kebutuhan industri; baik untuk pelaku usaha kontraktor, pertambangan, maupun peralatan keamanan kerja.

Salah satu alasan yang membuat Glodok tetap menjadi pilihan para konsumen adalah pilihan variasi barang yang lengkap dan harga yang umumnya lebih murah dibandingkan dengan harga barang sejenis yang ditawarkan di luar kawasan ini.

Namun, berdasarkan pengamatan berkala yang dilakukan Bisnis, belakangan ini mulai terlihat fenomena baru di Glodok. Aktivitas jual beli barang kebutuhan industri di kawasan itu tak begitu ramai bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya segelintir orang saja yang setiap harinya masih berlalu-lalang dan melihat-lihat produk yang dijual di LTC Glodok.

Kecenderungan itu terlihat selama setahun belakangan. Para pedagang di LTC Glodok semakin banyak yang mengeluhkan turunnya jumlah pembeli yang berasal dari customer walking atau konsumen yang datang melihat-melihat produk dan langsung membelinya.

Meskipun bisnis pertokoan di Glodok kian sepi, para pedagang di LTC masih terselamatkan karena kebanyakan dari mereka sudah memiliki pelanggan masing-masing, sehingga pemesanan barang bisa dilakukan melalui telepon.

“Tahun ini memang ada penurunan [omzet] 10%, karena harga barang beberapa ada naik, sehingga marginnya turun. Yang penting barangnya laku,” ujar Lena, Manager Toko Sentral Asia Teknik di LTC saat dijumpai Bisnis.

Produk yang dijual Lena a.l. mesin besar seperti genset, kompresor, dan alat pemotong. Sebagian besar diimpor dari China.

DAMPAK PENGETATAN

Pada saat bersamaan, tahun ini pemerintah menetapkan kenaikan pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 terhadap 1.147 pos tarif barang impor. Kebijakan pengetatan itu pun langsung berdampak pada kenaikan harga produk impor di Glodok, seperti yang dibeli Lena. Kenaikan berkisar antara 3%—5%.

Belum lagi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah turut mengerek harga beli banyak barang dagangan di LTC Glodok.

“Tahun lalu, keuntungannya bisa sampai Rp2 miliar. Tahun ini diperkirakan turun. Ya kami juga jual baik offline maupun online, 50:50 lah pembelinya,” kata Lena.

Penurunan pendapatan juga dikeluhkan salah satu pedagang yang menjual produk safety dan perlengkapan industri seperti selang air dan udara serta apar.

Saat ditemui terpisah, Manager toko Wijaya Tunggal Mikky Rahardja menuturkan, aturan PPh impor mengerek harga beli produk dagangannya antara 5%—15%. Akibatnya, mau tak mau, harga yang dibanderol ke tingkat konsumen juga mengalami kenaikan.

“Ya harga ke konsumen naik atau diskonnya berkurang. Diskon user yang biasanya 30% menjadi 15%,” ucapnya.

Selain itu, menurutnya, sejumlah aturan impor membuat kompresor impor yang memiliki kapasitas tabung besar harus dipisah atau dibongkar terlebih dahulu sebelum dikirim dan dirakit ke Indonesia.

“Ini tambah biaya lagi, untuk merakit kembali di Indonesia, karena tidak boleh beli dalam bentuk completely built up.”

Hal itu berdampak pada omzet yang diperolehnya. Dari yang biasanya Rp400 juta per bulan pada 2017 menjadi sekitar Rp300 juta per bulan tahun ini.

Kenaikan harga produk impor ini juga dirasakan oleh pemilik toko Setiajaya Mandiri, Patricia Aniela. Dia mengungkapkan ada kenaikan harga sebesar 5%—15% untuk barang elektronik yang diimpor dari China. 

“Pendapatan dari end user turun banget. Sejak 2 tahun lalu, terasa banget sepiannya LTC Glodok. Turunnya pembelian langsung bisa 50%—70%. Namun, untuk penurunan pendapat secara keseluruhan sekitar 10%,” terangnya kepada Bisnis.

Ditambah lagi, sebutnya, saat ini para importir atau pemain besar bisa menjual produk mereka secara daring tanpa lewat distributor seperti para pedagang di Glodok. Hal itu kian berpengaruh pada penurunan pendapatannya.

“Mereka bisa ngarahin supaya orang langsung ambil barangnya ke mereka, tanpa lewat agen. Kadang mereka bisa beri harga lebih murah daripada yang dijual ke toko,” kata Patricia.

Frank Guo, warga asal China, merupakan salah satu pelanggan LTC Glodok yang setiap tiga bulan sekali berbelanja perlengkapan kebutuhan pabrik pembuatan kapal perusahaannya yang berada Guangzhou.

Menurutnya, harga produk yang kerap dibelinya di Glodok mengalami kenaikan sekitar 5% bila dibandingkan dengan tahun lalu. Selain itu, dia mengaku kesulitan membeli beberapa produk saat ini.

“Dulu gampang membelinya. Murah sekarang mahal, harga naik,” ucap Frank.

Di lain pihak, Customer Relation LTC Glodok Andrew mengklaim, meski para pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli langsung, data kendaraan yang parkir di LTC sepanjang tahun berjalan mengalami kenaikan sekitar 5%—10% dibandingkan dengan tahun lalu.

“Ada kenaikan kendaraan yang parkir di LTC Glodok. Namun, ini enggak bisa dibilang semua berbelanja di LTC. Bisa saja mereka parkir di sini lalu jalan ke Glodok Jaya, Blustru, maupun HWI.”

Adapun, jumlah toko yang ada di LTC Glodok sendiri mencapai sekitar 3.200 toko dan tingkat keterisiannya sekitar 90%—95%.

“Ada yang membeli gerai untuk investasi saja, ada juga yang masa sewanya berakhir sehingga menunggu penyewa baru. Ada yang tutup karena pindah dan ada yang dijadikan gudang sehingga tingkat okupansi enggak bisa capai 100%,” ujar Andrew.

KORELASI

Secara terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara berpendapat, ada korelasi antara kenaikan impor barang konsumsi dengan penurunan penjualan di gerai-gerai ritel lokal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama Januari—September 2018, nilai impor barang konsumsi telah naik 26,4% secara tahunan. Menurut Bhima, perkembangan industri dagang-el juga mengerek volume barang impor.

“Data asosiasi e-commerce pernah mengungkap 93% barang yang dijual di platform e-commerce adalah barang impor,” katanya.

Untuk itu, dia berpendapat saat ini perlu ada regulasi yang mengatur perdagangan daring. Sebab, apabila pasar daring tidak diregulasi dengan proporsional. justru akan berdampak negatif bagi sektor usaha riil di Indonesia.

Salah satunya yakni tekanan pengusaha ritel karena para importir atau pemain besar menjual produknya langsung dari gudang (warehouse) ke portal daring.

“Aturan e-commerce ini perlu, sehingga bisnis dagang-el enggak kanibal dengan peritel luring. Pakai distribution channel misalnya melibatkan UMKM,” ucapnya.

Tekanan pelaku usaha ritel juga sangat besar, selain dari kebijakan pengendalian impor juga karena tekanan nilai tukar rupiah. 

“Outlook bisnis ritel lokal masih dalam proses pemulihan hingga 2019. Saya perkirakan pertumbuhannya berkisar antara 5%—7%,” tutur Bhima.

Sekjen Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI) Erwin Taufan juga mendukung perlunya aturan terkait dengan penjualan barang impor di platform daring. Hal ini perlu dilakukan agar pelaku usaha ritel konvensional dapat bertahan menjual produknya. 

“Dan sekarang para importir harus benar menjaga keseimbangan. Pemerintah harus konsentrasi mendukung para pengusaha agar bisa bertahan,” ujarnya.

Memang, dibutuhkan iklim yang adil bagi bisnis ritel. Harus ada keseimbangan antara kebutuhan untuk menekan defisit transaksi berjalan dan keharusan untuk menjaga geliat bisnis end user di dalam negeri. Bisa jadi, apa yang terjadi di Glodok hanyalah refleksi dari ketidakseimbangan di antara keduanya. 

Tag : ritel
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top