Taman Rekreasi di Indonesia Kurang Menarik bagi Wisman, Ini Alasannya

Pemerintah dan para pengusaha disarankan melakukan penelitian komprehensif soal karakter taman rekreasi yang dibutuhkan wisatawan mancanegara (wisman), guna menghindari investasi pengembangan pariwisata yang mubazir.
M. Richard | 30 Oktober 2018 14:34 WIB
Salah satu wahana atraksi di Taman Rekreasi Kampung Gajah

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dan para pengusaha disarankan melakukan penelitian komprehensif soal karakter taman rekreasi yang dibutuhkan wisatawan mancanegara (wisman), guna menghindari investasi pengembangan pariwisata yang mubazir.

Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari mengatakan, perilaku wisman sangat berbeda dari wisatawan nusantara (wisnus).

Oleh karena itu, penelitan preferensi wisman terhadap taman wisata di Indonesia sangat diperlukan untuk menciptakan investasi yang menguntungkan.

“Itu kekurangan kita, baik pelaku usaha maupun pemerintah. Banyak investasi yang tidak sesuai dengan potensi keutungan yang bisa dicapai,” katanya, Senin (29/10/2018).

Sekadar catatan, tahun depan pemerintah menargerkan kunjungan wisman mencapai 20 juta kunjungan, naik dari target tahun ini sebanyak 17 juta kunjungan.

Dalam menggapai target fantastis tersebut, Azril berpendapat pemerintah cenderung abai dengan upaya penelitian.

Padahal, sebutnya, efek samping investasi pengembangan pariwisata tanpa penelitian dapat membuat potensi taman rekreasi tidak maksimal dan kucuran modal pun terbuang sian-sia.

Dia menjelaskan, wisman yang datang ke Indonesia tidak banyak yang melirik taman rekreasi, dan mereka lebih tertarik pada keunikan dan keotentikan.

“Kedua hal ini selalu dilupakan, karena keberhasilan aktivitas taman rekreasi di suatu tempat dianggap sama dan akan berhasil juga untuk diterapkan di tempat lain. Padahal, tidak seperti itu.”

Saat dihubungi secara terpisah, Direktur Pemasaran Jawa Timur Park Gorup Titik Ariyanto mengatakan, perusahaannya sudah melakukan banyak upaya untuk menggaet kunjungan wisman.

Namun, rerata kunjungan wisman di taman rekreasinya masih bertahan di bawah 5% dari total pengunjung Jatim Park dalam kurun 3 tahun.

Padahal, dia menjelaskan, Jawa Timur Park menerapkan harga tiket yang sama antara wisman dan wisnus.

“Biaya promosi kami setiap tahun sudah miliaran rupiah, banyak yang sudah kami lakukan tetapi hasil tidak maksimal. Kami ingin mendapat perhatian lebih [dari pemerintah], karena kami sudah berupaya.”

Adapun, Jawa Timur Park Group memiliki 8 destinasi wisata dengan total kunjungan Jawa Timur Park pada 2016 mencapai 2,6 juta orang dan pada 2017 mencapai 2,93 juta orang. Sementara itu, pada 2018 perusahaan menargetkan kunjungan turis dapat mencapai 3,5 juta orang.

Pelaku usaha lain, Head of Corporate Secretary PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Agung Praptono mengatakan, perseroannya juga hanya mengantongi kontribusi kunjungan wisman di bawah 5%. Padahal, katanya, sudah banyak fasilitas yang tidak kalah canggih di Ancol dibandingkan dengan taman rekreasi di luar negeri.

Hanya saja, dia mengatakan, perilaku wisman yang datang ke Indonesia bukan untuk berwisata di taman rekreasi, melaikan berwisata untuk merasakan tradisi.

“Oleh sebab itu, Ancol pun tidak membuat target spesifik bagi peningkatan kunjungan wisman.”

Sekadar catatan, total kunjungan ke Ancol pada 2017 mencapai 17,8 juta orang, tahun ini diperkirakan mencapai 18,7 juta orang, dan pada 2019  ditargetkan menembus 20 juta  orang.

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Putri Gunawan Wibisono mengakui baru sebagian taman rekreasi di Tanah Air yang membidik segmen wisman.

Dia mengatakan, salah satu kendala utama yang mengadang kunjungan wisman adalah bahasa. Oleh karena itu, saat ini tengah dilakukan upaya sertifikiasi pemanduan terhadap lebih dari 6.800 taman rekreasi di seluruh Indonesia.

“Jadi, nantinya tidak ada wisman yang mersa kesulitan jika berkunjung,” katanya.

Tag : pariwisata
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top