Ini Berbagai Ambisi Induk Usaha BUMN Tambang Inalum dalam Beberapa Tahun ke Depan

Holding Industri Pertambangan (HIP) memperkirakan penjualan hasil ekspor hingga 2018 sebesar US$2,51 miliar atau sekitar Rp37 triliun. Per Agustus 2018, ekspor komoditas pertambangan dari induk usaha BUMN tersebut telah terealisasi US$1,57 miliar atau 62,5% dari proyeksi.
Anitana Widya Puspa | 28 Oktober 2018 18:53 WIB
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Holding Industri Pertambangan (HIP) memperkirakan penjualan hasil ekspor hingga 2018 sebesar US$2,51 miliar atau sekitar Rp37 triliun.  Per Agustus 2018, ekspor komoditas pertambangan dari induk usaha BUMN tersebut telah terealisasi US$1,57 miliar atau 62,5% dari proyeksi.

Dalam mendulang devisa dari hasil ekspor dan mengurangi ketergantungan bahan baku dari impor, HIP PT INALUM (Persero) juga sedang dalam proses mengembangkan sayap ke Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, untuk mendirikan pabrik aluminium primer beserta pembangkit listrik tenaga air dengan memanfaatkan sungai Kayan.

Budi G. Sadikin, Direktur Utama INALUM mengatakan pabrik itu memiliki kapasitas 500 kiloton per annum. Budi melanjutkan dengan nilai proyek sebesar US$6 miliar, ekspansi ke provinsi ini diharapkan dapat dimulai pada tahun depan.

Menurut Budi Inalum tengah didorong terwujudnya hilirisasi produk sektor pertambangan dengan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk merealisasikan proyek-proyek besar bernilai lebih dari US$10 miliar (Rp 150 triliun). 

Beberapa kerja sama dengan BUMN dan pihak swasta pun telah ditandatangani dan siap berjalan. Sejumlah proyek hilirisasi yang tengah dan sudah bergulir diantaranya di segmen aluminium, bauksit dan batu bara.

“Mendorong hilirisasi produk tambang merupakan salah satu dari tiga mandat Holding Industri Pertambangan. Beberapa proyek besar ini diharapkan mendukung terjadinya nilai tambah produk di sektor tambang dan upaya mendukung penghematan devisa negara,” ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis Minggu (28/10/2018).

Selain itu, Inalum bersama anggota HIP PT ANTAM Tbk dan produsen alumina terbesar kedua di dunia Aluminum Corporation of China Ltd (CHALCO) akan bekerja sama membangun pabrik pemurnian untuk memproses bauksit menjadi alumina, yang merupakan bahan baku utama untuk membuat aluminium ingot. INALUM sendiri merupakan produsen aluminium ingot satu-satunya di Indonesia.

Konstruksi proyek yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, ini dilakukan dalam 2 tahap dengan total kapasitas produksi 2 juta metrik ton alumina. Investasi untuk membangun pabrik tahap 1 tersebut diperkirakan sekitar US$ 850 juta dan di targetkan mulai produksi pada 2021. 

Anggota HIP lainnya, PT Bukit Asam Tbk, akan berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk untuk mengkonversi batubara muda menjadi syngas yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

Pabrik pengolahan gasifikasi batubara sendiri direncanakan mulai beroperasi pada November 2022. Diharapkan produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar sebesar 500 ribu per tahun, 400 ribu ton DME per tahun dan 450 ribu ton Polypropylene per tahun. Dengan target pemenuhan kebutuhan sebesar itu, diperkirakan kebutuhan batubara sebagai bahan baku akan sebesar 9 juta ton per tahun; termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listriknya. Nilai keseluruhan proyek tersebut diperkirakan lebih dari US$3 miliar.

Holding Industri Pertambangan resmi dibentuk pada 27 November 2017 dimana INALUM menjadi Induk Usaha Holding dan PT Aneka Tambang Tbk., PT Bukit Asam Tbk., dan PT Timah Tbk., sebagai anggota Holding. INALUM memegang 65% saham PT Aneka Tambang Tbk., 65.02% saham PT Bukit Asam Tbk., 65% saham, PT Timah Tbk., dan 9,36% saham PT Freeport Indonesia.

Sampai dengan Juni 2018, INALUM membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp30,1 triliun, tumbuh 59% dari tahun lalu. EBITDA konsolidasi mencapai Rp9,2 triliun, tumbuh 92% dari tahun lalu. Laba Bersih Konsolidasi mencapai Rp 5.3 triliun tumbuh 174% dari tahun.

Tag : inalum
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top