Ini Alasan META Fokus di Energi Terbarukan

PT Nusantara Infrastructure Tbk. akan fokus mengembangkan pembangkit listrik dari energi baru dan terbarukan sebagai upaya memperbesar portofolio perusahaan di sektor energi.
Sepudin Zuhri | 24 September 2018 17:08 WIB
Direktur Utama PT Nusantara Infrastructure Tbk Bapak Ramdani Basri menyampaikan sambutan pada peresmian pembangkit tenaga listrik swasta atau Independent Power Producer Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Siantan, di Kabupaten Menpawah, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (24/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, MEMPAWAH - PT Nusantara Infrastructure Tbk. akan fokus mengembangkan pembangkit listrik dari energi baru dan terbarukan sebagai upaya memperbesar portofolio perusahaan di sektor energi.

Chief Executive Officer Nusantara Infrastructure M. Ramdani Basri mengatakan bahwa fokus untuk bergerak di sektor energi terbarukan merupakan salah satu idealisme perusahaan yang 77% sahamnya dimiliki oleh PT Metro Pacific Tollways Indonesia tersebut.

"Banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, tetapi tetap dapat menjaga keberlangsungan lingkungan," ujarnya saat peresmian PLTBm Mempawah, Senin (24/9/2018).

Emiten berkode saham META itu resmi mengakuisisi 80% saham Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Siantan senilai Rp120 miliar pada akhir Agustus 2018. Pembangkit hijau yang berkapasitas 15 megawatt (MW) itu berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Dia menjelaskan, akuisisi pembangkit tersebut sebagai cara perusahaan untuk mulai masuk ke sektor energi, terutama pembangkit listrik.

"Ini [pembangkit listrik energi terbarukan] baru. Jadi, kami harus belajar, tetapi kami bisa belajar seperti [sektor] jalan tol untuk dapat berkembang cepat." 

Menurutnya, untuk masuk ke sektor bisnis yang relatif masih baru, perusahaan harus belajar terlebih dahulu, salah satunya dengan akuisisi. "Setelah itu baru dikembangakan lebih cepat. Dulu di jalan tol juga seperti itu [diawali dengan akuisisi], sekarang kami buat unisolated, kami udah lihai. Di energi, kami masih belajar, nanti akan dikembangkan seperti jalan tol."

Ramdani menambahkan, di tengah kondisi situasi perekonomian belum jelas, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, perang dagang, dan lainnya, pihak swasta harus ikut membantu untuk membangun infrastruktur.

Dia menilai, program Pembiayaan Investasi non-Anggaran Pemerintah (PINA) dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dapat mendorong swasta untuk ikut aktif membangun infrastruktur.

Ramdani berharap agar program dari Bappenas itu dikembangankan lebih jauh untuk perusahaan swasta lain sehingga beban pemerintah menjadi lebih ringan dibandigkan kalau badan usaha milik negara menanggung beban itu sendiri.

"Kalau swasta dilibatkan [dalam pembangunan infrastruktur], mudah-mudahan pelayanan lebih baik karena kami fokus bisnis, jadi pelayanan harus lebih efisien."

Dia menambahkan bahwa banyak teknologi yang bisa memanfaatkan sumber daya alam seperti air, angin, limbah untuk menjadi sumber energi. "Mudah-mudahan ke depan pemerintah beri kepercayaan lebih besar lagi kepada swasta. kalau swasta ikut, beban pemerintah jauh lebh ringan, daripada ditanggung sendiri oleh BUMN."

Tag : energi terbarukan
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top