Ini Dia Kronologi Lahirnya Impor Beras 2 Juta Ton versi Menko Perekonomian Darmin Nasution

Bisnis.com, JAKARTA - Polemik impor beras, terus memanas. Setelah Kemendag mengakui adanya penerbitan izin impor sebesar 1,8 juta ton dalam tiga tahap pada tahun ini.
Puput Ady Sukarno | 20 September 2018 03:35 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memberikan keterangan pers usai kegiatan halalbihalal di Graha Sawala, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (21/7 - 2018) | Ipak Ayu H.N

Bisnis.com, JAKARTA - Polemik impor beras, terus memanas. Setelah Kemendag mengakui adanya penerbitan izin impor sebesar 1,8 juta ton dalam tiga tahap pada tahun ini.

Persetujuan impor tahap I dan II telah keluar pada Februari dan Mei 2018, masing-masing 500.000 ton. Sisanya dikeluarkan pada Juli yang masa berlakunya habis pada Agustus.

Namun, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, untuk tahap ketiga akhirnya diperpanjang hingga September atas permintaan dari Bulog.

“Kami sudah buka izin impor atas permintaan rakor di Kemenko Perekonomian. Terserah Bulog mau memanfaatkan atau tidak,” katanya, Rabu (19/9/2018).

Adapun, Kepala Bulog Budi Waseso mengklaim stok beras saat ini dalam kondisi yang sangat ideal karena tahun ini Bulog mendapat pasokan yang berlimpah dari hasil penyerapan produksi dalam negeri dan penugasan pengadaan luar negeri.

Melihat hal tersebut, Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menilai bahwa sebenarnya tidak perlu ada kegaduhan atas impor beras tersebut, karena semuanya sudah diputuskan secara matang.

Bahkan, Opung - panggilan akrab Darmin Nasution - menjabarkan kronologis lahirnya impor beras tersebut. Berikut penuturannya :

1. Pada 2017, di kuartal ketiga harga beras mulai naik. Dan kita (pemerintah) sudah intens rapat, tapi waktu itu stok Bulog berada pada 978.000 ton.  Stok ini terbilang sedikit, karena stok normalnya 2 juta ton, kalau 3 juta bagus.

2. Kita (Kemenko Perekonomian) ada rapat berikutnya di 15 Januari 2018. Kita cek lagi, yang tadinya 978.000 itu tinggal 903.000 ton, berkurang 75.000 ton. karena harus operasi pasar untuk meredam kenaikan harga. Harga beras medium waktu itu sudah Rp11.300, naik dari normalnya Rp9.450/liter. Sementara panen raya masih Maret.

3. Tapi waktu itu ada yang menyatakan bahwa produksinya nanti banyak. Januari sekitar 2,5 juta ton beras, Februari 4,7 juta ton, Maret 6,5 juta ton. Total tiga bulan itu 13,7 juta ton, banyak dong angka ini. Melihat laporan itu, maka kita putuskan Bulog harus mampu menyerap 2,2 juta ton, paling lambat akhir Juni, Artinya panen raya lewat. Dengan harapan kalau 2,2 juta ton maka di akhir 2018, pengadaan Bulog bisa mendekati 3 juta.

4. Tapi, sementara itu, stok di Bulog hanya 903.000 ton, sedangkan itu 15 Januari sampai Maret adalah musim hujan, kita kemudian memutuskan impor 500.000 ton, dengan perintah bahwa harus masuk akhir Februari.

Karena kalau stok yang ada itu semakin turun, maka akan 'digoreng' oleh pedagang. Jangan dikira stok 903.000 ton itu banyak. Karena konsumsi sebulan sekitar 2,2 sampai 2,3 juta ton.

5. Akhir Februari, ternyata impor 500. 000 ton yang tadi diputuskan 15 Januari itu, ternyata belum masuk, dikarenakan panen  dari negara produsen juga mundur dan kendala proses pengapalannya yang  juga lama.

6. 19 Maret 2018 rapat lagi. Stok yang ada tinggal 590.000 ton, murni sisa dari 903.000 ton, stok total medium dan premium. Harga Rp11.044, turun sedikit dari yang sebelumnya, karena operasi pasar jalan terus.

7. Pada 28 Maret 2018 rapat lagi. Panen raya kan dah mulai mau habis kan, dibilang produksinya dibilang 6,5 juta ton. Saat itu, stok Bulog memang sedikit naik menjadi 649.000 ton. Tapi ya tidak ada apa-apanya, sementara panen raya dah mau habis. Lalu siapa yang akan percaya kalau ini akan baik baik saja ke depan, sehingga kita putuskan 1 juta ton. Harga beras medium waktu itu Rp11.036/kg.

8. Kemudian rapat terakhir, sekitar minggu ketiga Agustus 2018. Itu stok Bulog 2,2 juta ton.

Itu sudah termasuk impor, tapi belum masuk semuanya, sekitar 1,4 juta dia masuk. Sebelum itu. sekitar 1,188 juta. Lalu bertambah lagi jadi 1,4 juta, berarti pengadaan dalam negerinya sekitar 800.000 juta ton.

Tapi karena itu sudah Agustus, maka kita anggap 2,2 juta akan tambah sedikit pengadaan dalam negeri. Dan katanya bisa naik sampai 2,4 juta, berarti naik sedikit, sampai akhir tahun bisa 3 juta. Maka kita tidak menambah lagi.

"Jadi saya sebenarnya agak heran juga bahwa yang diributkan impor, tapi dihubungkan dengan gudang yang penuh. Itu penuh karena impor. Kalau enggak ada beras impornya, itu isinya hanya sekitar 800.000 ton beras saja," ujarnya, Rabu (19/9/2018) malam.

Sehingga, kata Darmin, tidak perlu ada kegaduhan terkait impor beras tersebut. "Gudang penuh karena impornya 1,4 juta. Kalau tidak ada impor waktu itu, repot kita," ujarnya.

Jadi, lanjut dia, keputusan impor sudah diambil dengan pertimbangan sangat matang, walaupun kementerian terkait menyatakan bahwa produksi selama tiga bulan bisa mencapai 13,7 juta ton. "Ya kalau segitu, ya beli dong. kita minta hanya 2,2 juta saja," ujarnya.

Darmin menerangkan bahwa saat ini total impor beras seluruhnya sudah 1,4 juta ton, sehingga masih ada sisa sekitar 600.000 ton. Namun, menurutnya, dari angka 600.000 ton tersebut tidak akan terealisasi semuanya dan hanya akan terealisasi sekitar 400.000 saja.

"Nah dari 600.000 ton itu tidak jadi segitu dan hanya 400.000 saja. karena ada impor dari India yang tidak datang. Jadi tadinya paling lambat Juli itu harus sudah 1,8 juta. Tapi sampai minggu ketiga Agustus masih belum masuk 400.000 ton beras itu. Nah itu dia situasinya. Jadi sebenarnya sangat matang dipikirkan sehingga tidak perlu ramai sebenarnya," ujarnya.

Tag : impor beras
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top