Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Kedelai Impor Lebih Digemari Produsen Tempe

Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) menilai terdapat perbedaan signifikan antara kualitas produksi kedelai lokal dengan impor, terutama saat dijadikan bahan utama tahu dan tempe.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 29 Agustus 2018  |  01:10 WIB
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor di kampung sukamaju, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (16/7/2018). - ANTARA/Adeng Bustomi
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor di kampung sukamaju, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (16/7/2018). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) menilai terdapat perbedaan signifikan antara kualitas produksi kedelai lokal dengan impor, terutama saat dijadikan bahan utama tahu dan tempe.

Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syaifuddin berpendapat dari segi kualitas dan harga kedelai impor lebih ramah kepada industri dibandingkan dengan kedelai lokal. Aip mengilustrasikan 1 kg kedelai impor dapat dijadikan tempe seberat 1,8 kg. Sementara untuk 1 kg kedelai lokal hanya bisa dijadikan 1,4 kg tempe.

“Artinya ada perbedaan kualitas ketika pengembangan. Selain itu dari segi harga, kedelai impor juga lebih murah pada kisaran Rp7.000 per kg dibandingkan dengan kedelai lokal yang menyentuh angka Rp8.500 per kg,” katanya kepada Bisnis pada Selasa (28/8).

Aip mengatakan dari kebutuhan kedelai nasional yang mencapai 3 juta ton, 87% digunakan untuk memproduksi tahu dan tempe dan sisanya 13% dijadikan sebagai kecap dan tauco. Jadi sekitar 2,6 juta ton digunakan sebagai produksi tempe dan tahu.

Beruntungnya, kata Aip, pemerintah tidak memberlakukan kuota impor terhadap kedelai jadi tidak terjadi kenaikan harga signifikan seperti pada kasus bawang putih. Menurutnya, produsen merasa senang karena bahan utama selalu tersedia dengan harga yang terjangkau.

Selain itu, produsen juga terbantu karena di Amerika Serikat sebagai negara tujuan impor sedang melakukan panen raya atas tanaman kedelai. Jadi meskipun rupiah tengah tertekan dollar AS, harga beli kedelai tidak terganggu karena panen yang melimpah membuat harga jual kedelai jatuh.

“Harusnya dengan kenaikan dollar, otomatis harga kedelai juga naik. Tapi di Amerika sedang panen jadi harga jual turun. Turunnya itu sekitar 7%-10% pun selaras dengan kenaikan dollar di kisaran yang sama. Jadi harga tidak berpengaruh,” katanya.

Aip mengatakan selama masih ada kedelai impor, produsen memiliki opsi yang lebih terjangkau dibandingkan dengan kedelai lokal.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top